Di bidang teknologi, Ditjen Pesantren mendorong pengembangan Konsep Santri 5.0, yakni santri yang tidak hanya memiliki kompetensi keagamaan, tetapi juga mampu menguasai teknologi informasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), dan keterampilan digital lainnya.
βSantri itu sangat memiliki kompetensi untuk melakukan dakwah. Namun dakwah tidak hanya secara tradisional, tetapi juga melalui media sosial atau media lainnya,β ujar Arsad.
Program strategis berikutnya adalah memperkuat kemandirian ekonomi pesantren melalui pengembangan kewirausahaan dan pemanfaatan potensi lokal.
Ia mengatakan pesantren memiliki ekosistem ekonomi yang dapat dikembangkan karena melibatkan santri, tenaga pendidik, pengelola lembaga, serta kebutuhan sehari-hari yang dapat dipenuhi melalui kegiatan usaha di lingkungan pesantren.
Di tengah agenda transformasi pendidikan, Ditjen Pesantren juga menghadapi tantangan pemerataan kualitas infrastruktur. Kondisi pesantren di Indonesia beragam, mulai dari lembaga yang telah memiliki fasilitas memadai hingga pesantren di wilayah terpencil yang masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana dasar.