NADIKABAR.COM — Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menyiapkan penyelenggaraan pameran bertajuk "Sacred Journey of Sheikh Yusuf Al Makassari: Legacy of Knowledge, Freedom, and Humanity" di Indonesia House Amsterdam, Belanda.
Menurut siaran pers kementerian yang diterima di Jakarta, Sabtu, pameran yang akan dirangkai dengan seminar ilmiah dan pemutaran film itu digelar untuk memperkenalkan sejarah tentang perjuangan dan kontribusi Sheikh Yusuf kepada khalayak masyarakat yang lebih luas.
Pada acara pembukaan pameran bertajuk "There Was Something Here Before" di Erasmus Huis, Jakarta, Jumat (2/10), Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menyampaikan bahwa Syekh Yusuf al-Makassari merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah hubungan Indonesia dan Afrika Selatan.
Setelah mendukung Sultan Ageng Tirtayasa menghadapi persekutuan dagang Belanda, VOC, di Banten, Syekh Yusuf ditangkap pada 1683 dan diasingkan ke Sri Lanka pada 1684.
Pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1693 memindahkan Syekh Yusuf ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan.
"Pengasingan Syekh Yusuf dimaksudkan untuk memisahkannya dari masyarakat dan jaringan yang selama ini mendukung perjuangannya. Namun, gagasan dan pengaruhnya tidak pernah terputus," kata Menteri Kebudayaan.
"Di Cape Town, Beliau terus mengajar dan menjadi pusat kehidupan spiritual serta komunitas. Warisannya masih dapat kita lihat hingga hari ini melalui keberadaan makam keramatnya dan masyarakat yang tumbuh di sekitar sejarah serta ingatannya," ia menjelaskan.
Kementerian Kebudayaan ingin menyampaikan sejarah perjuangan Syekh Yusuf al-Makassari kepada kalangan masyarakat yang lebih luas guna membangun kesinambungan dialog kebudayaan.
"Kita ingin membangun kesinambungan dialog kebudayaan dari Jakarta, Amsterdam, hingga Cape Town," kata Menteri Kebudayaan.
Upaya untuk membangun dialog kebudayaan antara lain akan diwujudkan melalui pendirian rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town serta penyelenggaraan pameran di Indonesia House Amsterdam.
"Melalui berbagai program tersebut, sejarah Syekh Yusuf dapat terus dikaji dan diperkenalkan kepada masyarakat luas," kata Menteri Kebudayaan.
"Kami juga berharap kehadiran rumah budaya dan museum Indonesia di Cape Town dapat menjadi jembatan kebudayaan yang memperkuat hubungan Indonesia dan Afrika Selatan secara berkelanjutan," katanya.
Pameran "There Was Something Here Before" yang dilaksanakan dari 3 Oktober hingga 23 Desember 2026 di Erasmus Huis, Jakarta, menampilkan kontribusi masyarakat asal Indonesia dalam membentuk kehidupan dan kebudayaan di Cape Town, Afrika Selatan.
"Pameran 'There Was Something Here Before' mengajak kita melihat kembali sejarah bersama melalui seni, kajian, dan dialog," kata Menteri Kebudayaan.
"Karya ini mempertemukan Indonesia, Belanda, dan Afrika Selatan dalam satu kerangka sejarah dan kebudayaan yang saling terhubung. Saya mengapresiasi Zahira Asmal yang mengajak kita melihat lebih dalam berbagai lapisan ingatan, komunitas, dan sejarah yang membentuk sebuah kota," ia menjelaskan.
Kurator sekaligus penggagas pameran, Zahira Asmal, menjelaskan bahwa penyelenggaraan pameran "There Was Something Here Before" berangkat dari upaya untuk memahami siapa saja yang membangun, merawat, dan membentuk sebuah kota.
Ia menyoroti kontribusi masyarakat dari bagian wilayah Indonesia seperti Jawa, Sumatera, dan Sulawesi, yang membawa pengetahuan, kepercayaan, bahasa, makanan, keterampilan, dan tradisi yang kemudian turut membentuk kehidupan masyarakat Cape Town.
"Pameran ini mengajak kita memikirkan siapa sebenarnya yang membentuk sebuah kota. Siapa yang membangunnya, merawatnya, membawa pengetahuan, menciptakan kebudayaan, dan berjuang untuk menjadikannya rumah," katanya.
"Banyak dari mereka berasal dari Indonesia dan terus membentuk kehidupan Cape Town hingga hari ini. Saya berharap pameran ini dapat membuat kita melihat serta menghargai kontribusi dan sejarah mereka," ia menambahkan.
Pameran multimedia interaktif "There Was Something Here Before" memadukan hasil penelitian, materi arsip, fotografi, suara, seni, kesaksian personal, dan desain interaktif.
Melalui berbagai medium tersebut, pameran memperlihatkan bahwa kota bukanlah ruang yang statis, melainkan terus terbentuk melalui perpindahan manusia, kerja keras, perjuangan, kepedulian, dan upaya pemulihan.
"Selalu ada sesuatu yang hadir sebelum apa yang kita lihat hari ini. Ada kehidupan, perjalanan, perjuangan, dan komunitas. Tanggung jawab kita adalah menghadirkan sejarah tersebut agar dapat dikenali, dilestarikan, dan dimaknai oleh generasi baru," demikian Fadli Zon.