Dalam kegiatan tersebut, Mendag Budi Santoso juga melepas ekspor 1.560 ton produk arang tempurung kelapa atau coconut charcoal ke Tiongkok senilai USD 1,34 juta atau sekitar Rp23 miliar oleh FUTRA Export. Pendiri FUTRA Export, Steven Magnus, menyebut pendampingan Kemendag turut membantu pengembangan ekspor perusahaannya melalui sejumlah fasilitas perdagangan.
Mendag Budi juga mengajak pelaku UMKM untuk tidak ragu memasuki pasar ekspor melalui program UMKM BISA Ekspor, dengan memanfaatkan jaringan yang dimiliki.
"Jadi, tidak perlu minder atau ragu jika belum pernah ekspor, karena tidak semua peserta UMKM BISA Ekspor sudah pernah ekspor. Indonesia juga tidak kekurangan produk karena UMKM kita memiliki banyak produk yang bagus. Justru hal penting yang harus dimiliki adalah konsistensi menjaga produk dan kemampuan memasarkannya," ujar Budi.
Program UMKM BISA Ekspor juga memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk memperluas akses pasar melalui jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara. Jaringan tersebut mencakup 46 perwakilan perdagangan di 33 negara yang dapat membantu promosi produk lokal serta mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli dari luar negeri.
Rangkaian Campuspreneur juga menjadi bagian dari upaya Kemendag memperkenalkan proses pengembangan usaha dari pasar lokal menuju pasar global kepada mahasiswa dan pelaku UMKM. Pelatihan, konsultasi, jejaring usaha, serta akses terhadap kegiatan perdagangan memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan bisnis berorientasi ekspor.