"Saya dari awal mendengarkan lagu mars Dekranas, lagu Mars PKK, dan juga Posyandu, ada kata-kata kunci di dalam lagu-lagu tersebut, pertama itu pembangunan, kemudian kolaborasi, dan juga ada kata-kata penguatan tata laksana keluarga. Oleh karena ini kritikal sekali, mari kita kolaborasikan kata-kata kunci yang ada di dalam lagu-lagu mars tadi, untuk kita bisa menggerakkan di daerah," ujar Teni.

Nilai-nilai luhur tersebut harus segera diterjemahkan ke dalam aksi nyata pemerintah daerah. Teni memaparkan visi besar Indonesia Emas 2045 sangat membutuhkan perubahan dan perbaikan tata kelola secara menyeluruh. Transformasi struktural ini wajib mencakup berbagai dimensi penting, mulai dari aspek sosial hingga ekonomi kerakyatan.

"Kita harus gali terus, kita harus kembangkan, dan harus majukan," ungkapnya.

Proses penggalian potensi lokal ini menuntut dedikasi serta inovasi tinggi dari seluruh aparat pelayan masyarakat.

Percepatan pembangunan mutlak membutuhkan sosok individu yang mampu menjadi motor penggerak sekaligus katalisator kolaborasi warga. Melalui sosok penggerak inilah, berbagai potensi unggulan daerah dapat dikembangkan secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

"Keberhasilan pembangunan nasional pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kebijakan atau dari orang-orang yang ada di tingkat pusat saja, tetapi kebijakan itu harus bisa diterjemahkan untuk jadi perbuatan atau kegiatan-kegiatan yang nyata di tingkat yang paling bawah, yaitu masyarakat di daerah, desa, dan kelurahan," pungkasnya.