NADIKABAR.COM — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menekankan pentingnya peran pendidikan dalam meningkatkan kesadaran dan mendorong aksi nyata pelestarian keanekaragaman hayati pada Forum The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB) 2026.

Dalam forum yang mempertemukan peneliti, akademisi, pendidik, pembuat kebijakan, mahasiswa, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara itu, Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan Kemendikdasmen Moch. Abduh menyampaikan keanekaragaman hayati merupakan fondasi kehidupan sehingga kehilangan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, degradasi lahan, serta pembangunan yang tidak berkelanjutan menjadi tantangan lintas negara, disiplin ilmu, dan generasi.

Abduh dalam pernyataan tertulis yang disiarkan oleh Kemendikdasmen di Jakarta pada Rabu mengatakan pendidikan menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun masa depan yang berkelanjutan.

Ia menjelaskan pendidikan tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir, sikap, dan hubungan manusia dengan lingkungan.

Oleh karena itu, lanjutnya, pembelajaran perlu memberikan pengalaman langsung agar peserta didik mampu memahami ekosistem serta berkontribusi dalam pelestarian alam.

“Sebuah sekolah juga tidak terpisah dari lingkungannya. Sebaliknya, lingkungan itu sendiri seharusnya menjadi ruang kelas hidup. Hutan, sungai, gunung, kawasan pesisir, dan taman nasional dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kondisi nyata,” ujar Abduh.

Sementara itu Direktur SEAMEO BIOTROP Edi Santosa menyampaikan tantangan pelestarian keanekaragaman hayati tidak dapat diselesaikan oleh satu negara, lembaga, atau disiplin ilmu saja.

Menurutnya, diperlukan keterhubungan antara sains, pendidikan, inovasi, kebijakan, dan kolaborasi regional.

Selain itu Koordinator ICTB 2026 Dewi Suryani menjelaskan konferensi tersebut menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengembangan kolaborasi di bidang biologi tropis.

Ia mengatakan ICTB 2026 menerima 51 makalah/karya penelitian, terdiri atas 43 presentasi lisan dan delapan presentasi poster.

Kegiatan ini diikuti sekitar 200 peserta yang mencakup mahasiswa, guru, dan pemakalah dari sembilan negara, yaitu Aljazair, Australia, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Polandia, Tailan, dan Timor-Leste.

Ia berharap konferensi ini dapat memperkuat kolaborasi untuk mendukung masa depan kawasan tropis yang berkelanjutan.

Dukungan terhadap kolaborasi lintas negara juga disampaikan oleh Deputy Director for Programme and Development SEAMEO Secretariat John Arnold Sasi Siena yang menekankan strategi pelestarian, penelitian, dan tata kelola keanekaragaman hayati perlu melampaui batas geografis.

Ia juga berharap ICTB 2026 menghasilkan keluaran konkret, termasuk rekomendasi kebijakan, publikasi ilmiah, dan jaringan regional untuk memperkuat kolaborasi jangka panjang.