NADIKABAR.COM β Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat pendidikan inklusif melalui revitalisasi 836 sekolah luar biasa (SLB) pada tahun ini dengan mengutamakan keamanan bangunan, aksesibilitas, dan fasilitas pembelajaran sesuai kebutuhan murid penyandang disabilitas.
Melalui kegiatan finalisasi desain teknis pembangunan dan bimbingan teknis di Kota Tangerang, Provinsi Banten, Kemendikdasmen mendorong setiap sekolah agar memiliki perencanaan revitalisasi yang tidak hanya memperbaiki kondisi fisik bangunan, tetapi juga mendukung pembelajaran, pendampingan, dan pengembangan kemandirian murid.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Muβti dalam pernyataan tertulis di Jakarta Pusat, Rabu, mengatakan setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang layak, termasuk anak-anak penyandang disabilitas.
Oleh karena itu, ia mengatakan kondisi bangunan dan ketersediaan fasilitas sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan murid.
βRevitalisasi ini bukan tujuan, tetapi sarana untuk menghadirkan gedung sekolah yang representatif dan pendidikan yang unggul,β ujar Mendikdasmen Mu'ti.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menyampaikan bahwa kebutuhan perbaikan sarana pendidikan masih besar.
Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) yang disampaikannya, lebih dari 900 ribu ruang kelas mengalami kerusakan sedang dan berat serta membutuhkan penanganan.
Sejumlah sekolah, kata Tatang, juga masih memerlukan ruang kelas baru.
βDi balik angka-angka tersebut ada jutaan anak yang menanti ruang belajar yang aman, nyaman, sekaligus layak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus di SLB,β kata Dirjen Tatang.
Ia pun mengingatkan kepada para kepala sekolah agar menggunakan bantuan sesuai kebutuhan dan rencana yang telah disusun.
Ia juga meminta para kepala sekolah agar tidak menanggapi permintaan yang menyimpang dari peruntukan bantuan.
Pengawasan pelaksanaan program dilakukan dengan melibatkan Kejaksaan Agung dan Kementerian Keuangan, termasuk dalam hal kepatuhan terhadap ketentuan perpajakan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SLBN Surade Rhadeya Phawitra menyampaikan bahwa sekolahnya membutuhkan ruang serbaguna, ruang UKS, dan ruang keterampilan.
Kondisi bangunan yang sudah tua serta atap yang bermasalah mempengaruhi kenyamanan kegiatan belajar.
Instalasi listrik yang tidak stabil juga menjadi perhatian karena dapat mengganggu penggunaan perangkat elektronik, termasuk penggunaan Interactive Flat Panel (Papan Interaktif Digital).
Akses bangunan turut menentukan kesempatan murid mengikuti kegiatan sekolah.
Bagi peserta didik dengan hambatan motorik, jalur yang sulit dilalui dapat membatasi ruang gerak mereka.
Fasilitas yang aksesibel memungkinkan pengguna kursi roda mengikuti kegiatan di luar kelas dan berinteraksi dengan teman-temannya secara lebih mandiri.
Melalui perencanaan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah, revitalisasi diharapkan menghasilkan fasilitas yang dapat digunakan secara optimal.
Ruang terapi, jalur yang aksesibel, ruang keterampilan, hingga bangunan yang aman menjadi bagian penting dari layanan pendidikan yang dibutuhkan peserta didik SLB.