Menurutnya keberhasilan kerja sama teknis tersebut tidak diukur dari jumlah pertemuan, misi, lokakarya, atau pelatihan yang dilakukan, melainkan dari sejauh mana kegiatan itu mampu meningkatkan dan menjaga kapasitas pengawasan keselamatan penerbangan secara berkelanjutan.
Lukman menambahkan Indonesia saat ini bersiap menghadapi audit International Civil Aviation Organization Universal Safety Oversight Audit Pragramme (ICAO USOAP) yang diperkirakan berlangsung pada 2027.
Menurutnya, audit itu penting namun tanggung jawab menjaga safety oversight tidak berhenti begitu audit selesai.
Beberapa area yang sedang digarap dalam kerja sama itu, antara lain specific approvals dengan prioritas awal pada low visibility operations, SMS assessment, risk assessment, personnel licensing examination process, serta pengembangan state safety programme.
"Lewat kerja sama ini, kami berharap kedua otoritas penerbangan sipil bisa terus saling berbagi pengalaman dan keahlian, sehingga kapasitas safety oversight kita semakin kompeten, terstandardisasi, berbasis risiko, terkoordinasi, dan berkelanjutan," kata Lukman.
Lukman berharap pula pertemuan itu menghasilkan empat hal, pertama kesepahaman bersama soal sejauh mana kegiatan prioritas sudah berjalan; kedua identifikasi tantangan utama dan dukungan yang dibutuhkan; ketiga kesepakatan soal prioritas dan tenggat waktu ke depan.