NADIKABAR.COM — Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkuat respons menghadapi bencana melalui koordinasi lintas pemangku kepentingan guna menjaga keselamatan penerbangan, mempercepat penanganan darurat, serta mempertahankan kelancaran layanan transportasi udara nasional.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Achmad Setiyo Prabowo mengatakan keselamatan, menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional penerbangan ketika menghadapi kondisi darurat agar layanan masyarakat tetap berjalan aman dan lancar.
"Fokusnya kita, konsennya kami dalam rangka memastikan seluruh sektor yang bergerak di dunia penerbangan itu dapat berjalan dengan selamat, aman, nyaman, dan juga lancar," kata Achmad dalam Lokakarya Forum Wartawan Perhubungan di Bandung, Jawa Barat, Jumat.
Kemenhub mencatat beberapa kejadian bencana terbaru menjadi pembelajaran penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan sektor penerbangan nasional terutama menghadapi gangguan yang dapat mempengaruhi operasional bandar udara dan perjalanan udara masyarakat secara luas.
Pertama, dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra, terdapat sejumlah bandara terdampak serta beberapa penerbangan mengalami pembatalan dan penundaan akibat kondisi lingkungan yang tidak mendukung keselamatan penerbangan.
Kondisi itu mendorong Kemenhub terus melakukan evaluasi agar dampak gangguan operasional dapat diminimalkan dengan target ideal seluruh penerbangan tetap berlangsung tanpa hambatan meskipun terdapat situasi darurat berada di luar kendali.
Kemudian penanganan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada 5-8 September 2026 juga menjadi perhatian karena berdampak pada sembilan bandar udara ditutup sementara, serta 430 penerbangan dan 50 ribu penumpang mengalami dampak selama kejadian.
Ia menegaskan kolaborasi regulator, operator bandar udara, maskapai dan pemangku kepentingan lainnya dinilai berperan penting dalam menjaga layanan penerbangan tetap terkendali ketika menghadapi situasi darurat akibat abu vulkanik maupun gangguan bencana lainnya.
"Bayangkan kalau di kondisi seperti ini kami regulator hanya bekerja sendiri, oh sudah ampun. Mungkin masyarakat sudah banyak komplain, ngeluh, dan lain sebagainya," katanya.
Dia menuturkan, saat terjadi musibah tersebut, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi bersama jajaran Kemenhub turut melakukan pemantauan intensif selama penanganan dampak erupsi dengan memastikan koordinasi berjalan cepat antara regulator dan seluruh pihak terkait di lapangan guna melindungi keselamatan penerbangan.
"Tapi alhamdulillah kami disupport oleh operator, baik itu bandar udara, terutama pihak Angkasa Pura Indonesia, serta airlines dan juga stakeholder yang lain. Ini adalah kolaborasi yang luar biasa, bagaimana Bapak Menteri Perhubungan (Dudy Purwagandhi) kurang lebih 2 x 24 jam stay di Soekarno-Hatta," tambah Achmad.
Tak hanya itu, kejadian gempa Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) juga menjadi pengalaman lain ketika sejumlah bandara terdampak namun tetap difungsikan sebagai pusat distribusi logistik dan penanganan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah itu.
Ia menuturkan, Bandara Labuan Bajo yang sebelumnya dikenal sebagai pintu masuk wisata beralih fungsi menjadi bandar udara penyangga untuk mendukung distribusi bantuan serta pergerakan pesawat dan helikopter selama proses penanganan bencana berlangsung.
Karena itu, Kemenhub mengapresiasi kerja cepat regulator daerah, operator bandara, AirNav Indonesia, serta pemangku kepentingan lain yang menjaga kelancaran operasional penerbangan saat kondisi darurat akibat berbagai bencana yang terjadi di wilayah Indonesia.
Menurut dia, dukungan komunikasi publik juga menjadi bagian penting dalam menghadapi bencana karena informasi yang tepat membantu masyarakat memahami kondisi penerbangan dan langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah bersama seluruh unsur terkait nasional.
Kemenhub berkomitmen memperkuat sistem kesiapsiagaan melalui evaluasi rutin, peningkatan koordinasi, dan penguatan prosedur keselamatan agar layanan transportasi udara nasional tetap berjalan optimal meski menghadapi berbagai ancaman bencana.
Pengalaman berbagai kejadian tersebut menjadi dasar bagi Kemenhub untuk terus meningkatkan kemampuan respons bencana demi memastikan penerbangan nasional tetap aman, nyaman, dan berkelanjutan bagi masyarakat melalui kerja sama lintas sektor.