Senada, Ketua AAAH Anna Kurniati, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan, mengatakan bahwa tenaga kesehatan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
"Tantangan tersebut meliputi peningkatan populasi lanjut usia, tingginya beban penyakit tidak menular, munculnya penyakit infeksi baru, dampak perubahan iklim, hingga ketimpangan global," katanya.
Secara global, kata Anna, kekurangan tenaga kesehatan diproyeksikan mencapai sekitar 10 juta orang pada 2030, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Didirikan pada 2005 dengan 10 negara anggota, AAAH kini berkembang menjadi jaringan yang mencakup 22 negara di kawasan Asia-Pasifik. Aliansi ini bekerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan untuk mendorong kebijakan, mengembangkan pengetahuan, serta meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan.
Konferensi ini mengangkat tiga pilar utama yang saling berkaitan. Pilar pertama adalah kepemimpinan dan tata kelola, termasuk penguatan perencanaan dan implementasi kebijakan yang melibatkan seluruh elemen pemerintah dan masyarakat. Pilar kedua mencakup pendidikan berkualitas dan kesejahteraan tenaga kesehatan, baik selama masa pendidikan maupun sepanjang perjalanan karier. Sementara itu, pilar ketiga berfokus pada transformasi digital, termasuk pemanfaatan layanan kesehatan jarak jauh (telemedicine) dan rekam medis elektronik secara bertanggung jawab, inklusif, dan berkeadilan.