Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat Dr. Saia Ma’u Piukala mengingatkan bahwa di balik setiap layanan kesehatan terdapat hubungan kepercayaan yang esensial antara tenaga kesehatan dan pasien. Ia menekankan pentingnya perlindungan dan dukungan bagi tenaga kesehatan, termasuk kondisi kerja yang layak, pengembangan karier, kepemimpinan, dan kesejahteraan.
“Saya dulu adalah seorang tenaga kesehatan, sebagai dokter bedah, dan saya paham betul apa artinya ketika seorang ibu membawa anaknya yang sakit kepada Anda dengan harapan sederhana bahwa Anda akan melakukan yang terbaik. Ia mempercayai Anda, dan kita tidak boleh merusak kepercayaan itu karena setiap pasien, setiap ibu, dan setiap anak berhak mendapatkan yang terbaik,” ungkap Dr. Saia.
Bagi Indonesia, pemerataan tenaga kesehatan masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 37 persen puskesmas belum memiliki sembilan jenis tenaga kesehatan prioritas secara lengkap. Sementara itu, sekitar 41 persen rumah sakit umum daerah kabupaten/kota belum memenuhi kualifikasi tujuh dokter spesialis dasar.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan memanfaatkan Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan untuk memetakan distribusi dan memproyeksikan kebutuhan tenaga kesehatan. Upaya ini memprioritaskan wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses dan ketersediaan tenaga kesehatan, termasuk Papua, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
Melalui konferensi ini, AAAH menargetkan lahirnya rekomendasi kebijakan untuk memperkuat perencanaan tenaga kerja kesehatan, meningkatkan keselamatan dan kesejahteraan tenaga kesehatan, serta memperluas penerapan inovasi digital. Hasil konferensi diharapkan menjadi acuan strategis bagi negara-negara anggota dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan, sekaligus memastikan tersedianya pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas bagi seluruh masyarakat.