NADIKABAR.COM — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berharap melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) bisa diperoleh data masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan jiwa.
Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Sunarto mengatakan bahwa saat ini kesehatan jiwa menjadi salah satu fokus dari Kementerian Kesehatan.
“CKG bisa mendapat (data) masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan mental yang memang secara kasat mata kadang-kadang tidak terlihat ya, dimulai dari kecemasan, kemudian gangguan tidur, gangguan aktivitas lain,” kata Sunarto kepada NadiKabar di Jakarta, Senin.
Dalam memperkuat layanan kesehatan jiwa, kata Sunarto, Kemenkes lebih dulu memperkuat pelayanan kesehatan mental di puskesmas sebagai layanan primer.
“Jadi, kita harapkan deteksi dini dari skrining jiwa CKG, kemudian pemeriksaan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) puskesmas, itu bisa mendistribusikan ke mana seorang pasien itu akan dirujuk dan akan mendapat fasilitas yang tepat untuk rujukan itu,” ujar Sunarto.
Layanan kunjungan ke rumah, lanjut Sunarto, serta penguatan kerja sama dengan komunitas, dan optimalisasi peran rumah sakit juga dijalankan sebagai strategi penanganan kesehatan jiwa.
Sunarto menjelaskan bahwa dari 10.300 lebih puskesmas di Indonesia, 65 persen diantaranya telah dilengkapi dengan tenaga kesehatan terorientasi layanan jiwa.
“Jadi, ada layanan untuk psikologi dan layanan kesehatan jiwa, dan puskesmas itu dilengkapi dengan minimal 5 obat untuk kesehatan jiwa, antara lain obat penenang dan obat untuk mencegah kecemasan,” ujar Sunarto.
Ia menerangkan bahwa masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan jiwa secara darurat, bisa menghubungi pusat bantuan 119 yang bisa diakses selama 24 jam.
Sunarto mengingatkan masyarakat untuk tidak ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila merasa memiliki masalah mental.
“Jadi, gangguan jiwa itu dimulai dari kehilangan minat. Biasanya kita sebut depresi, kehilangan minat. Minat makan hilang, minat cari hiburan hilang, padahal dulu dia suka,” kata Sunarto.