Capaian pelayanan tersebut turut didukung oleh kedekatan personal antara tenaga kesehatan dan masyarakat setempat.

Selain memperkuat kolaborasi regional, konferensi ini juga menghadirkan nilai kebersamaan melalui kearifan lokal masyarakat Bali, yakni filosofi Menyama Braya yang mengajarkan untuk memperlakukan sesama sebagai saudara.

Yuli Farianti mengatakan, para delegasi dari 22 negara yang hadir di Bali kini pulang sebagai satu keluarga besar yang dipersatukan oleh misi mulia untuk merawat mereka yang merawat orang lain.

Sementara itu, Ketua AAAH periode 2024–2026 sekaligus Sekretaris Direktorat Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes Anna Kurniati mengapresiasi atas kuatnya dukungan dan solidaritas antarnegara anggota serta kontribusi mitra pembangunan internasional, seperti WHO, JICA, KOICA, ADB, UNFPA, dan IHPP Foundation.

AAAH, katanya, merupakan aliansi strategis untuk memperkuat aksi kolektif negara-negara anggota. Menurutnya, tidak ada satu negara pun yang dapat menyelesaikan tantangan SDM kesehatan secara mandiri.

Seluruh rekomendasi Konferensi AAAH ke-14 selanjutnya akan menjadi rujukan strategis bagi Indonesia dalam menyusun Blueprint Pengelolaan SDM Kesehatan 2026–2035. Penutupan konferensi ini sekaligus menandai penyerahan tongkat estafet penyelenggaraan konferensi berikutnya kepada Thailand.