NADIKABAR.COM β€” Kementerian Pariwisata mengajak para agen perjalanan dan tur operator (TA/TO) lokal membuat paket wisata tematik yang berbasis pada ketenangan jiwa, gastronomi dan budaya yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur, Magelang.

β€œTren wisatawan nusantara, khususnya segmen menengah ke atas dari wilayah Jabodetabek, kini tidak lagi sekadar mencari destinasi untuk berfoto, melainkan pengalaman mendalam yang memberikan ketenangan jiwa dan narasi sejarah yang kuat,” kata Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu.

Made menyampaikan hal tersebut menjadi sebuah upaya untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Dalam hal ini, Kementerian Pariwisata telah menggelar kegiatan familiarization trip (famtrip) yang diikuti oleh 10 TA/TO lokal untuk memahami adanya pergeseran tren wisata masyarakat dari semula wisata massal menuju pengalaman yang lebih bermakna dan bernilai tinggi.

Perubahan tersebut sejalan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan yang menghadapi tekanan aktivitas sehari-hari dan menjadikan liburan sebagai sarana perawatan diri, pemulihan kesehatan mental, serta kesempatan memperoleh pengalaman berkesan.

Famtrip bertajuk "Harmoni Raga, Rasa dan Tradisi" yang diselenggarakan pada 16 sampai 20 Oktober 2026 itu juga dijadikan sebagai ruang untuk mempertemukan pembeli dan penyedia layanan wisata melalui pertemuan bisnis (B2B). Kegiatan tersebut diharapkan menghasilkan transaksi yang bermanfaat bagi ekonomi lokal sekaligus mendukung pencapaian target 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada 2026.

Para peserta menikmati berbagai pengalaman wisata yang memadukan kuliner, sejarah, budaya, dan kebugaran. Kegiatan diawali dengan eksplorasi gastronomi bersama Dje Djak Rasa melalui Telusur Kampung Santan Spesial Ingkung di Bantul, yang memadukan sajian ayam ingkung dengan kisah resep tradisional.

Eksplorasi kekayaan kuliner Nusantara berlanjut melalui "Senja Gastronomy Walking Tour: Telusur Tugu & Pecinan" untuk mengenal akulturasi budaya sekaligus mencicipi jajanan lokal.

Peserta juga mengikuti perjalanan "Tiga Wajah Mataram" bersama Remen Jawi yang menghadirkan penjelajahan sejarah dan perjamuan lintas masa. Agenda dilanjutkan dengan menikmati racikan teh personalisasi di Sadahurip, menjelajahi Kampung Wisata Purbayan, serta menikmati hidangan gastronomi etnik di Dapur Alit Jogja.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi meditasi berkesadaran yang memadukan pengalaman relaksasi dan penuturan kisah budaya bersama Selaras Jiwo Journey.

Kegiatan itu turut mengangkat potensi wisata jalan kaki (walking tour) sebagai alternatif menikmati destinasi secara lebih dekat. Aktivitas ini semakin diminati karena memungkinkan wisatawan menjelajahi lingkungan, budaya, dan kehidupan masyarakat melalui perjalanan yang lebih santai dan mendalam (slow tourism).

β€œMelalui jalan kaki, wisatawan tidak hanya melintasi ruang kota, tetapi dapat berinteraksi langsung dengan warga lokal, menghirup suasana kampung, serta meresapi cerita sejarah dan kuliner secara autentik di setiap sudut yang dikunjungi. Pengalaman sensorik seperti inilah yang dicari oleh wisatawan berkualitas tinggi masa kini,” ujar dia.