Capaian tersebut menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok kakao regional sekaligus membuka peluang untuk terus memperkuat daya saing industri nasional.

Dari sisi penjualan, industri pengolahan kakao mencatat volume sebesar 93.253 ton pada triwulan III 2026, meningkat 9,5 persen dibandingkan triwulan II 2026 yang mencapai 85.138 ton.

Berdasarkan jenis produk, kenaikan penjualan tertinggi terjadi pada cocoa liquor sebesar 91,3 persen, diikuti cocoa cake sebesar 49,6 persen dan cocoa butter sebesar 8,8 persen. Sementara itu, penjualan cocoa powder mengalami penurunan sebesar 2,9 persen.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menyampaikan, perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi penguatan industri pengolahan kakao nasional.

Namun, momentum pertumbuhan perlu diikuti langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi, menjamin ketersediaan bahan baku, dan memperluas pasar ekspor.