Di sisi hulu, industri pengolahan kakao masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain curah hujan berkepanjangan dan potensi fenomena El Nino pada periode mendatang. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui penguatan budidaya, peningkatan produktivitas perkebunan, serta penerapan praktik pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Sementara di sisi hilir, perluasan akses pasar melalui perjanjian perdagangan internasional seperti FTA menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan daya saing dan ekspor produk olahan kakao Indonesia.

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, pelaku industri perlu memahami ketentuan asal barang (rules of origin), pemenuhan dokumen, prosedur ekspor, serta persyaratan yang berlaku di negara tujuan.

Kemenperin menilai diperlukan sinergi lintas sektor yang melibatkan kementerian, lembaga, asosiasi, dan pelaku usaha agar berbagai peluang perdagangan yang tersedia dapat diterjemahkan menjadi peningkatan ekspor produk olahan kakao secara berkelanjutan.

Dalam rangka mendukung upaya tersebut, Kemenperin turut mendukung penyelenggaraan workshop pengembangan ekspor produk kakao dan olahannya melalui pemanfaatan FTA dan fasilitas kebijakan pemerintah.