Sementara itu, Ella yang turut mengunjungi booth Ditjen Hortikultura di AGRINEX 2026 menyampaikan bahwa buah-buahan Indonesia memiliki peluang untuk bersaing di pasar China, terutama dari segi cita rasa dan penampilan.
"Cita rasa dan penampilan itu penting. Namun, untuk ekspor ke Tiongkok memerlukan pemenuhan persyaratan negara tujuan, termasuk ketentuan registrasi dan persyaratan karantina yang berlaku, dengan memperhatikan ketentuan General Administration of Customs of the People's Republic of China (GACC)," tegas Ella.
Menanggapi hal tersebut, Freddy menjelaskan salah satu tantangan yang dihadapi eksportir adalah mengonsolidasikan pasokan dari berbagai wilayah Indonesia agar kualitas dan volume produk sesuai dengan kebutuhan pasar. Karena itu, Ditjen Hortikultura akan menindaklanjuti peluang kerja sama melalui koordinasi terkait standar mutu yang dibutuhkan pasar serta kesiapan produksi petani.
"Upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ekspor ini didukung melalui program Horticulture Development in Dryland Areas Sector Project atau HDDAP, yang mengembangkan 14 komoditas di 13 kabupaten. Ada mangga, salak, manggis, hingga durian. Program ini mendorong penerapan praktik pertanian yang baik, peningkatan penanganan pascapanen, serta penguatan kelembagaan ekonomi petani agar mampu menghasilkan produk berkualitas dan memenuhi kebutuhan pasar ekspor secara berkelanjutan," jelas Freddy.