NADIKABAR.COM — Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Hubungan Kelembagaan, Regulasi, dan Reformasi Birokrasi Kementerian Pertanian (Kementan) Tin Latifah mengatakan bahwa pihaknya berupaya memaksimalkan tanam padi di September guna menjaga stok beras hingga Desember dan seterusnya.

"Stok beras kita melimpah, seperti yang disampaikan Menteri Pertanian selama 10 bulan ke depan stok beras aman," ujar Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Hubungan Kelembagaan, Regulasi, dan Reformasi Birokrasi Kementan yang juga Penanggung Jawab Swasembada Pangan Provinsi Lampung Tin Latifah di Metro, Rabu.

Ia mengatakan pihaknya akan berupaya memaksimalkan tanam padi di September, agar di Desember atau Januari dapat dilakukan panen.

"Tanam padi kita di September diupayakan maksimal, sehingga nanti sampai dengan Desember kita masih memiliki cukup stok beras, serta bisa memastikan bahwa kita tidak akan melakukan impor di tahun 2027 nanti," katanya.

Dia berharap adanya program PM-AAS di 38 provinsi salah satunya di Provinsi Lampung dengan target 35.100 hektare di Lampung, dapat membantu mencapai target produksi untuk menjaga stok beras.

"Harapannya PM-AAS di September dapat mencapai 2.500 hektare. Nanti di Oktober, November, Desember mudah-mudahan bisa tercapai 35.100 hektare untuk Lampung. Kalau itu bisa tercapai, bisa membantu memenuhi target nasional 1 juta hektare dan bila produktivitasnya di atas 10 ton, maka realisasi produktivitas nasional akan terdongkrak, tidak berada di 5 ton per hektare lagi," ucap dia.

Ia menjelaskan produktivitas padi selama ini yakni sejak tahun 2010 stagnan dengan rata-rata 5 ton per hektare. Dengan penggunaan teknologi pertanian di PM-AAS produksi tersebut jadi upaya agar bisa meningkat cadangan beras dan produktivitas.

"PM-AAS sudah dicoba di beberapa provinsi, memang rata-ratanya semua produksi di atas 10 ton. Kemarin di Lampung Tengah ada yang 12 ton, ada yang 11 ton, ada yang 10 ton, rata-ratanya 11 ton, ini akan diperluas kembali," tambahnya.