NADIKABAR.COM — Kementerian Kebudayaan menggelar Lokakarya Kehumasan dan Jurnalistik Kebudayaan di Garut, Jawa Barat, kemarin. Pelatihan tersebut membahas penulisan berita, narasi, etika pers, hingga cara mendokumentasikan kekayaan budaya Nusantara.
Saat ini, humas kebudayaan dituntut mampu menemukan fakta yang penting bagi publik, memilih sudut yang kuat, lalu menyampaikannya dengan bahasa sederhana. Karena itu, pelatihan tersebut dirancang untuk menambah wawasan sekaligus menjadi bekal bagi jajaran humas.
"Pelatihan ini untuk menambah wawasan dan menjadi bekal bagi humas. Pengalaman panjang para pemateri bisa diambil agar kerja-kerja humas ke depan lebih baik lagi," kata Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Media dan Komunikasi Publik, M. Asrian Mirza dalam keterangannya, Kamis (8/10/2026)..
Sementara itu, Pemimpin Redaksi VOI.id, Iqbal Irsyad menyoroti masih banyak rilis humas yang kehilangan berita karena terlalu sibuk menceritakan seremoni. Padahal, pembaca lebih membutuhkan informasi tentang hal baru, dampak, angka, keputusan, atau perubahan yang terjadi.
"Kegiatan bukan otomatis berita. Berita lahir ketika ada hal baru, berdampak, dan penting bagi pembaca," jelas Iqbal.