Ia menegaskan cerita yang baik dapat membuat tradisi dikenal lebih luas, tetapi cerita yang ceroboh justru bisa merugikan komunitas pemilik budaya. Materinya juga menekankan akurasi, keberimbangan, izin, serta penghormatan terhadap komunitas dalam setiap dokumentasi budaya.
"Berita memberitahu, narasi membuat orang merasakan. Tetapi keduanya tetap harus berbasis fakta," kata Dudi.
Sebagai informasi, lokakarya tersebut diikuti oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Informasi Publik Ridwan Kementerian Kebudayaan beserta jajaran, serta perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan dari 34 provinsi di seluruh Indonesia.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi. Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari menentukan angle, membuat lead, memilih kutipan, hingga mengubah rilis yang terlalu seremonial menjadi berita yang lebih hidup dan punya nilai bagi pembaca.
Melalui pelatihan ini, humas diharapkan tidak hanya piawai membuat lembaganya berbicara, tetapi juga memahami informasi mana yang benar-benar layak didengar masyarakat.