NADIKABAR.COM — Kementerian Kebudayaan memfasilitasi pembangunan Museum Bing Slamet sebagai upaya menghadirkan ruang mempertemukan sejarah, seni dan budaya kepada masyarakat luas.
Sosok Bing Slamet yang dihadirkan di museum ini merupakan seniman, tokoh komedi sekaligus menjadi upaya menjaga ingatan terhadap perjalanan seorang tokoh, tetapi juga memberikan ruang belajar dan inspirasi bagi generasi mendatang serta memperkuat keberagaman ekspresi kebudayaan nasional.
“Yang paling penting masyarakat yang ada di sini mendukung supaya museum ini menjadi salah satu pusat budaya dan juga menjadi tempat untuk belajar, untuk mengapresiasi, mengenang, dan juga memberikan inspirasi agar nanti lahir seniman dan budayawan seperti Bing Slamet di masa mendatang,” kata Menbud Fadli Zon dalam keterangan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Senin.
Museum Bing Slamet dibangun oleh Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Sejarah dan Permuseuman dengan memanfaatkan rumah peninggalan sang maestro.
Bangunan rumah dipertahankan dengan arsitektur dan ruang-ruang aslinya melalui renovasi ringan untuk menjaga nilai historis sekaligus menghadirkan pengalaman sejarah yang lebih dekat kepada masyarakat.
Direktur Jenderal Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Restu Gunawan, dalam laporannya menyampaikan bahwa kehadiran Museum Bing Slamet merupakan bagian dari komitmen Kementerian Kebudayaan untuk memastikan museum hadir sebagai ruang publik yang relevan, edukatif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kementerian Kebudayaan tahun 2026 melakukan revitalisasi terhadap sekitar 200 museum dan cagar budaya secara bertahap. Museum Bing Slamet menjadi salah satu museum yang ditata dan diselesaikan pada tahun ini setelah sebelumnya dimulai pembangunannya saat penetapan Hari Komedi Nasional pada tahun 2025,” paparnya.
Sedangkan Adi Bing Slamet, mewakili keluarga Bing Slamet menyampaikan apresiasi dan rasa harunya kepada Kementerian Kebudayaan atas inisiatif dan kerja keras dalam mewujudkan rumah tersebut sebagai museum.
Menurut Adi Bing Slamet, rumah di Jalan Arifin No 7 ini bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Pada era keemasan Bing Slamet, rumah tersebut menjadi markas kreatif sekaligus tempat berkumpulnya para maestro dan seniman lintas generasi.
“Mengubah kediaman ini menjadi museum, kami merasa kehangatan dan semangat itu dihidupkan kembali. Rumah ini dibuka kembali untuk publik, bukan hanya sebagai tempat mengenang Bing Slamet, tetapi sebagai tempat merayakan sejarah kebersamaan para insan seniman Indonesia,” ucap Adi.
Museum Bing Slamet menghadirkan delapan area yang menceritakan perjalanan hidup sang maestro, mulai dari masa kecil, musik, lawak, film, memori keluarga, jejaring seniman, perjuangan kemerdekaan, hingga ruang apresiasi masyarakat.
Koleksi yang ditampilkan antara lain gitar, piringan hitam, piagam penghargaan, foto keluarga, surat pribadi, pakaian, serta berbagai memorabilia Bing Slamet.
Museum juga menyajikan sejumlah ruang autentik rumah Bing Slamet yang dipertahankan sebagai bagian dari narasi museum, sejumlah media interaktif turut dihadirkan, seperti radio lama, headphone bergaya vintage, AI photo booth, dubbing suara, hingga peta digital Jakarta tempo dulu.
Pendekatan tersebut dirancang agar generasi muda dapat mengenal sejarah melalui pengalaman yang interaktif dan partisipatif.