Menurut Loto, program tersebut tidak sekadar memberikan pemahaman mengenai proses IPO, tetapi juga membina perusahaan agar bertransformasi dari usaha yang masih bertumpu pada pemilik menjadi organisasi yang lebih profesional.
Pembinaan mencakup penguatan fundamental bisnis, tata kelola, transparansi, kualitas laporan keuangan, serta perencanaan pertumbuhan jangka panjang.
Ia mengatakan keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau perusahaan yang didorong untuk segera melantai di bursa. Pemerintah perlu melihat kemajuan nyata perusahaan dalam memperbaiki tata kelola, profesionalisme manajemen, dan kemampuan merencanakan ekspansi.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman menyebut terdapat 42 emiten kategori UKM yang melantai di Papan Akselerasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan total pendanaan sekitar Rp2 triliun.