NADIKABAR.COM — Kementerian Transmigrasi bersama Universitas Diponegoro dan Technical University of Munich (TUM) Jerman berkolaborasi menggelar Summer Course 2026. Program bertajuk Transformative Transmigration Planning Towards Green Barelang ini merumuskan penataan strategis kawasan transmigrasi Tanjung Banon di Batam.

Kegiatan edukatif ini berlangsung secara intensif sejak 1 hingga 10 Oktober 2026. Tujuan utamanya adalah menciptakan kawasan permukiman yang jauh lebih ramah lingkungan, mandiri, dan berkelanjutan.

Pendekatan tata ruang berbasis pertumbuhan hijau ini siap memberdayakan ragam potensi ekonomi warga setempat.

Strategi inovatif tersebut sejalan dengan visi baru pemerintah pusat dalam membangun kemandirian ekonomi. Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara memfokuskan programnya pada pengembangan wilayah sekaligus pemberdayaan masyarakat luas.

"Program transmigrasi yang baru mengembangkan wilayah yang menyediakan peluang bagi masyarakat. Kita tidak lagi sekadar memindahkan masyarakat untuk menempati lahan," ujar Iftitah pada keterangan tertulisnya, Minggu (4/10/2026).

Pembangunan ekosistem ekonomi terpadu ini diyakini mampu mengakselerasi tingkat kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Semangat pengembangan kawasan unggulan ini juga merujuk langsung pada arahan strategis Presiden Prabowo Subianto. Hal senada turut ditekankan oleh Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono terkait pemerataan pembangunan.

Setiap daerah dinilai memiliki karakteristik unik sehingga strategi pengembangannya wajib disesuaikan dengan potensi lokal masing-masing.

Guna mematangkan konsep tersebut, para delegasi lintas disiplin ilmu turun langsung mengobservasi kawasan Rempang Eco City. Mereka secara aktif mengumpulkan masukan dari warga terkait kelestarian lingkungan pesisir hingga tata ruang. Pelibatan masyarakat sejak dini ini dinilai sangat krusial bagi kelancaran program ke depannya.

"Saya pikir transmigrasi dapat menjadi peluang yang baik bagi masyarakat jika beberapa aspek seperti ekologis, ekonomis, dan juga sosial diintegrasikan dengan cara yang benar," ungkap delegasi TUM Jerman, Jacob.

Integrasi lintas sektor ini dipastikan akan mendatangkan manfaat finansial berkelanjutan bagi warga sekitar.

Pengalaman berharga turun langsung ke lapangan ini turut memberikan kesan mendalam bagi para delegasi internasional. Keramahan warga lokal dinilai menjadi pilar utama dalam mempererat hubungan lintas budaya antarbangsa.

"Kami belajar banyak tentang masyarakat Indonesia dan gaya hidup di sini bersama orang-orang yang sangat ramah. Mungkin ke depannya bisa ada pertukaran balik ke Jerman," kata delegasi TUM lainnya, Alina.

Konektivitas pendidikan ini diharapkan mampu memicu penciptaan ragam inovasi baru di masa depan.

Kehadiran para akademisi mancanegara ini juga mendapat sambutan yang sangat hangat dari masyarakat setempat. Warga merasa amat bersyukur wilayahnya bisa menjadi lokasi percontohan riset berskala global.

"Tentunya kita bangga, karena walaupun kita dari tempat yang pedalaman, kita bisa memberikan ilmu kepada warga dari luar negeri," tutur warga Rempang Eco City, Garim.

Sinergi kolaboratif ini siap mendorong kemajuan pesat bagi seluruh kawasan transmigrasi Nusantara.