Dia menekankan Indonesia punya komitmen kuat terhadap toleransi, penghormatan antarumat beragama, dan hubungan internasional yang saling menghormati. Prinsip ini perlu terus disuarakan dalam pergaulan dunia.
"Kita perlu bersikap tegas dalam menjaga martabat dan penghormatan terhadap agama, sekaligus tetap mengedepankan diplomasi yang terukur. Tujuannya bukan memperbesar polemik, melainkan membangun kesadaran bahwa perbedaan pandangan politik tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan penghormatan terhadap keyakinan orang lain," imbuh dia.
Senada dengan Dave, Wakil Ketua Komisi I DPR lainnya Sukamta juga mengecam Trump. Dia menyebut pernyataan Trump sangat tidak patut.
"Nama Muhammad memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Islam. Karena itu, menjadikannya bahan olok-olok, terlebih oleh seorang kepala negara, tentu sangat tidak patut. Seorang pemimpin dunia seharusnya memberi teladan dalam menghormati keyakinan dan identitas keagamaan masyarakat," ujar Sukamta.
Sukamta menegaskan bahwa kebebasan berbicara tetap harus disertai tanggung jawab, terutama bagi seorang pemimpin negara yang pernyataannya mendapat perhatian masyarakat internasional. Menurutnya, perbedaan pandangan politik, termasuk ketegangan hubungan Amerika Serikat dengan Iran, tidak semestinya menyeret identitas dan simbol keagamaan ke dalam bahan ejekan.