NADIKABAR.COM — Kebijakan kenaikan kelas non-otomatis di pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen) perlu dibahas bukan sekadar sebagai pilihan antara menaikkan dan tidak menaikkan murid.

Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana memastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar tepat, adil, dan mendukung perkembangan belajar setiap murid.

Kebijakan ini mungkin dimaksudkan untuk menjaga standar kompetensi, tetapi tanpa sistem pengambilan keputusan yang andal, niat baik tersebut justru dapat merugikan murid dan menimbulkan persoalan baru.

Kenaikan kelas bukan tujuan pendidikan. Tujuan utamanya ialah memastikan setiap murid memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi yang dipersyaratkan.

Oleh karena itu, keputusan tidak menaikkan murid ke kelas berikutnya hanya dapat dibenarkan apabila didasarkan pada bukti yang memadai bahwa murid tersebut belum mencapai kompetensi esensial, setelah memperoleh kesempatan dan dukungan pembelajaran yang diperlukan.

Pertanyaannya bukan semata-mata apakah murid layak naik kelas, melainkan apakah sekolah memiliki dasar yang cukup kuat untuk mengambil keputusan tersebut.

Dalam pengukuran dan evaluasi pendidikan, terdapat dua jenis kesalahan keputusan yang perlu diantisipasi. Pertama, false negative decision, yaitu ketika murid yang sebenarnya telah memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan justru diputuskan tidak naik kelas. Kedua, false positive decision, yaitu ketika murid yang sebenarnya belum memenuhi kompetensi tersebut justru dinaikkan kelas.

Kedua kesalahan itu mempunyai konsekuensi yang berbeda. Kesalahan pertama dapat membuat murid kehilangan waktu belajar, menurunkan motivasi, dan merasa diperlakukan tidak adil. Kesalahan kedua dapat menyebabkan kesenjangan kompetensi terbawa ke kelas berikutnya, sehingga murid semakin kesulitan mengikuti pembelajaran.

Oleh karena itu, kebijakan kenaikan kelas non-otomatis tidak boleh hanya berorientasi pada pencegahan kesalahan menaikkan murid yang belum menguasai kompetensi. Kebijakan ini juga harus mencegah kesalahan menahan murid yang sebenarnya telah memenuhi persyaratan.

Keputusan yang baik bukanlah keputusan yang paling banyak menahan murid, melainkan keputusan yang paling akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.