NADIKABAR.COM — Indonesia tengah memasuki musim kemarau. Namun bukannya terbebas dari gangguan nyamuk, belakangan banyak netizen justru mengeluhkan serangga pengisap darah tersebut terasa semakin banyak.

Kondisi ini terdengar aneh. Nyamuk selama ini identik dengan musim hujan karena membutuhkan air untuk berkembang biak. Lantas, kenapa saat cuaca panas dan hujan berkurang nyamuk masih bisa berkeliaran?

Sejumlah penelitian menunjukkan jawabannya tidak sesederhana kemarau berarti nyamuk berkurang. Khususnya pada Aedes aegypti, nyamuk yang dapat menularkan demam berdarah dengue (DBD), telurnya mempunyai kemampuan luar biasa untuk bertahan menghadapi kondisi kering.

Namun perlu dicatat, ramainya keluhan di media sosial belum menjadi bukti ilmiah bahwa populasi nyamuk di Indonesia secara nasional sedang melonjak. Ada sejumlah faktor yang dapat membuat nyamuk tetap bertahan atau terasa lebih mengganggu selama kemarau.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan Aedes aegypti berkembang biak pada wadah berisi air yang banyak ditemukan di sekitar tempat tinggal manusia. Yang menarik, telurnya tidak langsung mati ketika air mengering.

"Telur dapat bertahan dalam kondisi sangat kering dan hidup selama berbulan-bulan," demikian penjelasan WHO mengenai Aedes aegypti.