Ada temuan lain yang menarik. Studi mengenai Aedes aegypti dan Aedes albopictus menemukan kondisi hangat dan kering dapat memberikan keuntungan ekologis bagi Aedes aegypti dibandingkan spesies pesaingnya.

Penelitian tersebut menemukan keberadaan Aedes aegypti pada wadah justru meningkat seiring meningkatnya temperatur rata-rata dan panjangnya musim kering. Sebaliknya, keberadaan Aedes albopictus cenderung berkurang ketika temperatur dan jumlah bulan kering meningkat.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan sebagai preprint pada Januari 2026 juga menunjukkan kemampuan telur Aedes aegypti menghadapi kekeringan berbeda antar-populasi.

Menariknya, nyamuk dari lingkungan perkotaan yang memiliki preferensi tinggi terhadap manusia menunjukkan tingkat kelangsungan hidup telur lebih tinggi dalam kondisi kering berkepanjangan. Peneliti menyebut temperatur musim kering menjadi salah satu faktor yang dapat memprediksi toleransi telur terhadap kekeringan. Karena masih berstatus preprint, temuan ini belum melalui proses peer review jurnal.

Artikel ini telah tayang di NadiKabar. Baca selengkapnya di sini.