Telur kemudian dapat menetas ketika kembali bersentuhan dengan air. Karena itu, musim kemarau tidak otomatis memutus siklus hidup nyamuk.

Kemampuan tersebut juga dibuktikan lewat penelitian. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Vector Ecology menguji telur Aedes aegypti dalam tiga kondisi kekeringan hingga 367 hari.

Hasilnya mencengangkan. Tingkat kelangsungan hidup telur masih berada di atas 88% pada semua kondisi hingga 56 hari. Bahkan setelah satu tahun, sekitar 2-15% telur yang diuji masih hidup.

Penelitian lain yang terbit di PLOS Biology pada 2023 mengungkap mekanisme di balik kemampuan tersebut. Saat menghadapi kekeringan, embrio Aedes aegypti mengalami perubahan metabolisme, termasuk dalam pemanfaatan lipid, yang membantu telur bertahan ketika kehilangan air.

Artinya, telur yang menempel di dinding ember, pot, bak atau wadah lainnya dapat tetap menunggu hingga kondisi kembali memungkinkan untuk menetas.