NADIKABAR.COM — Nyeri pada betis merupakan keluhan yang dapat dialami setelah berjalan jauh, berolahraga, berdiri terlalu lama, atau melakukan aktivitas fisik yang lebih berat dari biasanya. Rasa sakitnya bisa berupa pegal, kram, kaku, hingga nyeri tajam ketika kaki digunakan untuk berjalan.
Meski sering berkaitan dengan kelelahan otot, nyeri betis tidak selalu disebabkan oleh aktivitas fisik. Keluhan yang muncul berulang kali atau tanpa penyebab jelas juga dapat berkaitan dengan gangguan saraf maupun pembuluh darah.
Bagian betis terletak di belakang tungkai bawah, tepatnya di antara lutut dan pergelangan kaki. Area ini terutama dibentuk oleh dua otot utama, yakni gastrocnemius dan soleus, yang berperan membantu gerakan berjalan, berlari, melompat, serta menggerakkan pergelangan kaki.
Menurut Cleveland Clinic, nyeri betis dapat muncul akibat kram, cedera otot, maupun gangguan pembuluh darah. Tingkat keparahannya beragam, mulai dari keluhan ringan yang membaik dengan perawatan mandiri hingga kondisi yang membutuhkan pemeriksaan medis.
Lantas, kenapa betis sering terasa nyeri dan bagaimana cara mengatasinya?
Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan nyeri pada betis. Mengenali gejala yang menyertai dapat membantu menentukan kapan keluhan cukup ditangani dengan perawatan sederhana dan kapan perlu diperiksa.
Kram merupakan salah satu penyebab umum nyeri betis. Kondisi ini terjadi ketika otot berkontraksi secara tiba-tiba dan sulit kembali rileks sehingga menimbulkan rasa sakit atau kaku.
Kram sering muncul saat tidur, beristirahat, atau setelah melakukan aktivitas fisik. Menurut NHS, kram kaki umumnya berlangsung beberapa detik hingga sekitar 10 menit. Setelah kram mereda, otot masih dapat terasa sakit hingga 24 jam.
Beberapa faktor yang dapat memicu kram antara lain aktivitas fisik berlebihan, kelelahan otot, kehamilan, penggunaan obat tertentu, serta kondisi kesehatan yang memengaruhi fungsi otot dan saraf.
2. Cedera atau ketegangan otot betis
Nyeri betis juga dapat terjadi akibat otot mengalami peregangan berlebihan atau robekan pada sebagian serabutnya. Kondisi ini dikenal sebagai calf strain.
Cedera tersebut sering terjadi saat berlari, melompat, mengubah arah gerakan secara mendadak, atau melakukan aktivitas fisik tanpa pemanasan yang cukup.
Gejalanya dapat berupa nyeri mendadak, pembengkakan, memar, serta kesulitan mengangkat tumit atau bertumpu pada ujung kaki. Pada cedera yang lebih berat, seseorang mungkin kesulitan berjalan.
3. Kurang bergerak atau terlalu lama berada dalam satu posisi
Duduk dalam waktu lama, misalnya ketika bekerja di depan komputer atau melakukan perjalanan jauh, dapat membuat otot terasa kaku dan tidak nyaman.
Pada sebagian orang, kondisi tersebut memicu keluhan pegal atau nyeri setelah kembali bergerak. Namun, duduk terlalu lama juga merupakan salah satu faktor risiko terbentuknya gumpalan darah di pembuluh vena dalam atau deep vein thrombosis (DVT), terutama jika disertai faktor risiko lainnya.
Karena itu, nyeri betis setelah perjalanan panjang perlu diperhatikan, khususnya jika hanya terjadi pada satu kaki dan disertai pembengkakan.