4. Dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit
Kekurangan cairan dapat terjadi ketika seseorang banyak berkeringat, beraktivitas di cuaca panas, atau tidak mencukupi kebutuhan minum.
Kondisi tertentu yang menyebabkan perubahan kadar mineral dalam tubuh juga dapat berkaitan dengan kram otot. Mineral seperti kalium, kalsium, dan magnesium berperan dalam fungsi normal otot dan saraf.
Meski demikian, tidak semua kram betis berarti tubuh kekurangan elektrolit. Konsumsi suplemen mineral sebaiknya tidak dilakukan sembarangan tanpa mengetahui penyebab keluhan.
5. Gangguan saraf atau saraf terjepit
Masalah pada saraf di sekitar tulang belakang dapat menyebabkan rasa sakit yang menjalar hingga bagian betis.
Salah satu contohnya adalah skiatika, yaitu nyeri akibat iritasi atau tekanan pada saraf skiatik. Keluhan dapat terasa seperti nyeri tajam, panas, terbakar, atau disertai kesemutan dan mati rasa.
Pada kondisi ini, rasa sakit tidak selalu berasal dari otot betis. Gangguan saraf di bagian punggung bawah dapat menjadi sumber nyeri yang dirasakan hingga tungkai.
Nyeri betis yang muncul ketika berjalan dan berkurang setelah beristirahat dapat berkaitan dengan penyakit arteri perifer atau peripheral artery disease (PAD).
Kondisi tersebut terjadi ketika pembuluh darah arteri yang memasok darah ke tungkai mengalami penyempitan, sehingga aliran darah ke otot berkurang, terutama saat beraktivitas.
Berbeda dengan nyeri akibat kelelahan biasa, keluhan akibat gangguan sirkulasi dapat muncul berulang pada jarak atau aktivitas tertentu. Gejala lain yang mungkin menyertai adalah kaki terasa lebih dingin, perubahan warna kulit, atau luka yang sulit sembuh.
Salah satu penyebab nyeri betis yang perlu diwaspadai adalah DVT, yakni terbentuknya gumpalan darah pada pembuluh vena dalam, umumnya di tungkai.
Gejalanya dapat berupa nyeri berdenyut pada satu betis atau paha, pembengkakan pada satu kaki, kulit terasa hangat, serta perubahan warna menjadi kemerahan atau lebih gelap.
DVT tidak boleh dianggap sebagai kram biasa karena gumpalan darah dapat bergerak menuju paru-paru dan menyebabkan emboli paru yang mengancam nyawa. Jika mengalami nyeri betis disertai pembengkakan atau perubahan warna kulit tanpa penyebab cedera yang jelas, segera cari pertolongan medis.
Penanganan nyeri betis perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Jika keluhan tergolong ringan dan berkaitan dengan aktivitas fisik atau ketegangan otot, beberapa langkah berikut dapat membantu.
Kurangi aktivitas yang memicu rasa sakit, seperti berlari, melompat, atau berjalan jauh. Namun, hindari tidak bergerak sama sekali dalam waktu lama jika tidak ada anjuran medis.
2. Lakukan peregangan secara perlahan