Merek dan proses pengembangan juga berpengaruh

Harga sepeda juga dipengaruhi reputasi merek dan biaya pengembangan produknya.

Produsen besar menghabiskan sumber daya untuk penelitian material, pengujian aerodinamika, pengembangan geometri, pengujian keamanan, hingga pengembangan komponen baru.

Pada segmen tertentu, merek juga menawarkan produk dengan produksi terbatas. Eksklusivitas tersebut membuat harga sebuah sepeda dapat semakin tinggi.

Contohnya terlihat pada kolaborasi Bugatti dan Factor Bikes yang menghasilkan Factor One. Sepeda tersebut menggunakan serat karbon secara luas dan diproduksi terbatas hanya 250 unit di seluruh dunia.

Dengan produksi yang terbatas dan penggunaan material serta teknologi khusus, sepeda seperti ini memang berada jauh di atas harga sepeda yang ditujukan untuk penggunaan sehari-hari.

Menariknya, tren sepeda saat ini tidak hanya bergerak ke arah sepeda balap dengan teknologi tinggi.

Di Indonesia, penggunaan sepeda sebagai alat transportasi juga masih terus didorong oleh komunitas. Bike to Work (B2W) Indonesia pada 2026 kembali mengampanyekan sepeda sebagai moda transportasi alternatif, termasuk dengan mendorong keberadaan jalur sepeda yang aman dan terintegrasi.

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat juga mencatat B2W sebagai gerakan yang mengampanyekan penggunaan sepeda untuk aktivitas sehari-hari dan perjalanan menuju tempat kerja.

Di sisi lain, kategori sepeda juga semakin beragam. Road bike, gravel, sepeda gunung, sepeda lipat hingga sepeda untuk komuter memiliki karakter dan kebutuhan berbeda.

Tren gravel, misalnya, semakin mendapat perhatian karena menawarkan fleksibilitas untuk digunakan di jalan aspal maupun permukaan yang lebih kasar.

Artinya, mahal atau tidaknya sebuah sepeda sebenarnya sangat bergantung pada kebutuhan penggunanya.