NADIKABAR.COM — Bagi sebagian orang, sepeda mungkin terlihat seperti kendaraan sederhana. Hanya ada rangka, dua roda, pedal, setang, dan beberapa komponen pendukung lainnya.

Namun, ketika melihat harga sepeda di pasaran, angkanya bisa sangat beragam. Ada sepeda yang dapat dibeli dengan harga beberapa juta rupiah, tetapi ada pula model yang harganya bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Lantas, apa yang membuat harga sebuah sepeda bisa sangat mahal?

Jawabannya bukan sekadar merek. Ada banyak faktor yang ikut menentukan harga, mulai dari material rangka, kualitas komponen, teknologi, bobot, desain, hingga jumlah produksi.

Tren bersepeda yang terus berkembang juga membuat pasar sepeda semakin beragam. Pada 2026, sepeda tidak hanya digunakan untuk olahraga, tetapi juga menjadi bagian dari mobilitas perkotaan, gaya hidup, komunitas, hingga aktivitas rekreasi.

Material rangka menjadi salah satu faktor utama

Salah satu bagian yang paling menentukan harga sepeda adalah rangkanya.

Sepeda dengan rangka aluminium umumnya lebih terjangkau dibandingkan model yang menggunakan serat karbon. Sementara itu, sepeda kelas atas bisa menggunakan karbon dengan rancangan khusus untuk mengejar bobot ringan, kekakuan, aerodinamika, sekaligus kenyamanan.

Karbon juga memungkinkan produsen membuat bentuk rangka yang lebih kompleks. Pada sepeda balap modern, misalnya, bentuk tabung dan bagian depan rangka dapat dirancang untuk membantu mengurangi hambatan udara.

Karena itu, dua sepeda yang sekilas terlihat mirip belum tentu memiliki nilai material dan proses produksi yang sama.

Komponen bisa membuat harga melonjak

Rangka mahal belum tentu menjadi satu-satunya penyebab harga sepeda tinggi. Komponen yang digunakan juga punya pengaruh besar.

Groupset, misalnya, mencakup berbagai komponen seperti shifter, derailleur, crankset, cassette dan sistem pengereman. Semakin tinggi kelas groupset, biasanya semakin banyak teknologi dan material yang digunakan.

Shimano melalui lini Dura-Ace, misalnya, menempatkan sistem tersebut sebagai salah satu kelompok komponen road cycling kelas atas. Dura-Ace R9200 menggunakan teknologi perpindahan gigi elektronik Di2 yang dirancang untuk perpindahan gigi cepat dan presisi.

Artinya, ketika sebuah sepeda menggunakan komponen kelas atas secara menyeluruh, harga akhirnya bisa meningkat cukup signifikan.

Dalam dunia sepeda performa, bobot menjadi salah satu hal yang banyak diperhatikan.

Produsen berlomba membuat rangka, wheelset, cockpit, hingga komponen lain yang semakin ringan tanpa mengorbankan kekuatan dan karakter berkendara.

Namun, mengurangi bobot bukan perkara sederhana. Dibutuhkan material, desain, proses manufaktur, serta pengujian yang lebih kompleks.

Karena itu, sepeda yang memiliki bobot sangat ringan biasanya berada di kelas harga yang berbeda dibandingkan sepeda dengan spesifikasi standar.

Khususnya pada road bike, aerodinamika juga menjadi faktor penting.

Bentuk rangka, fork, wheelset, posisi kabel, sampai desain komponen dapat dibuat untuk mengurangi hambatan udara. Tujuannya adalah membantu pesepeda mendapatkan efisiensi lebih baik ketika melaju dalam kecepatan tinggi.

Teknologi seperti ini tentu membutuhkan proses riset dan pengembangan. Jadi, harga yang dibayarkan konsumen tidak hanya untuk bahan mentah, tetapi juga untuk pengembangan desain dan teknologi di balik produk tersebut.

Bagian lain yang sering membuat harga sepeda melonjak adalah wheelset.

Wheelset kelas atas dapat menggunakan material karbon dan dirancang dengan fokus pada bobot, aerodinamika, kekakuan, serta efisiensi. Pada sepeda balap, wheelset bahkan bisa menjadi salah satu komponen termahal setelah rangka dan groupset.

Inilah sebabnya sebuah sepeda dengan rangka yang terlihat serupa bisa memiliki harga berbeda jauh hanya karena menggunakan wheelset dan komponen yang berbeda.

Merek dan proses pengembangan juga berpengaruh

Harga sepeda juga dipengaruhi reputasi merek dan biaya pengembangan produknya.

Produsen besar menghabiskan sumber daya untuk penelitian material, pengujian aerodinamika, pengembangan geometri, pengujian keamanan, hingga pengembangan komponen baru.

Pada segmen tertentu, merek juga menawarkan produk dengan produksi terbatas. Eksklusivitas tersebut membuat harga sebuah sepeda dapat semakin tinggi.

Contohnya terlihat pada kolaborasi Bugatti dan Factor Bikes yang menghasilkan Factor One. Sepeda tersebut menggunakan serat karbon secara luas dan diproduksi terbatas hanya 250 unit di seluruh dunia.

Dengan produksi yang terbatas dan penggunaan material serta teknologi khusus, sepeda seperti ini memang berada jauh di atas harga sepeda yang ditujukan untuk penggunaan sehari-hari.

Menariknya, tren sepeda saat ini tidak hanya bergerak ke arah sepeda balap dengan teknologi tinggi.

Di Indonesia, penggunaan sepeda sebagai alat transportasi juga masih terus didorong oleh komunitas. Bike to Work (B2W) Indonesia pada 2026 kembali mengampanyekan sepeda sebagai moda transportasi alternatif, termasuk dengan mendorong keberadaan jalur sepeda yang aman dan terintegrasi.

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat juga mencatat B2W sebagai gerakan yang mengampanyekan penggunaan sepeda untuk aktivitas sehari-hari dan perjalanan menuju tempat kerja.

Di sisi lain, kategori sepeda juga semakin beragam. Road bike, gravel, sepeda gunung, sepeda lipat hingga sepeda untuk komuter memiliki karakter dan kebutuhan berbeda.

Tren gravel, misalnya, semakin mendapat perhatian karena menawarkan fleksibilitas untuk digunakan di jalan aspal maupun permukaan yang lebih kasar.

Artinya, mahal atau tidaknya sebuah sepeda sebenarnya sangat bergantung pada kebutuhan penggunanya.