NADIKABAR.COM — Ada beberapa makanan yang cukup disebut namanya saja sudah bisa membuat orang membayangkan aromanya. Jengkol salah satunya.

Bagi sebagian orang, jengkol adalah makanan yang sebaiknya dijauhi. Aromanya dianggap terlalu menyengat, bisa tertinggal di mulut, napas, bahkan urine setelah dikonsumsi.

Namun, bagi penggemarnya, persoalan bau tersebut seolah bukan masalah besar.

Jengkol masih tetap dicari dan dikonsumsi.

Di warung makan, rumah makan khas Sunda, hingga meja makan keluarga, jengkol bisa hadir dalam berbagai masakan. Ada yang dimasak menjadi semur dengan kuah berwarna gelap, diolah menjadi sambal, digoreng, direbus, atau dimasak dengan bumbu pedas yang membuat nasi hangat terasa sulit berhenti ditambah.

Di situlah keunikan jengkol. Makanan ini seperti punya dua kelompok penggemar yang sangat berbeda: mereka yang mencium baunya lalu menjauh dan mereka yang justru mencium aromanya lalu merasa lapar.

Bau yang memang punya alasan ilmiah

Kalau selama ini jengkol dianggap bau hanya karena stigma, sebenarnya ada penjelasan ilmiahnya.

Jengkol atau Archidendron pauciflorum memiliki sejumlah senyawa yang mengandung sulfur. Penelitian mengenai komponen aroma pada jengkol menemukan 1,2,4-trithiolane sebagai salah satu komponen utama yang berkontribusi terhadap aromanya.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa senyawa penyebab aroma tidak sedap pada jengkol dan petai terutama berkaitan dengan senyawa sulfur. Jadi, karakter bau jengkol memang bukan sekadar sugesti atau akibat makanan yang tertinggal di sela-sela gigi. Ada senyawa kimia tertentu yang membuat aromanya begitu mudah dikenali.

Itulah sebabnya jengkol punya karakter yang berbeda dari makanan lain. Bahkan ketika sudah dimasak dengan berbagai macam bumbu, aroma khasnya masih bisa muncul.

Bagi yang tidak terbiasa, aroma tersebut bisa terasa terlalu kuat. Namun bagi penggemarnya, justru di situlah daya tariknya.