Namun, kondisi tersebut tidak berarti setiap orang yang makan jengkol akan mengalami bau dengan tingkat yang sama. Banyak faktor yang dapat memengaruhi seberapa kuat aroma yang tercium, termasuk jumlah jengkol yang dikonsumsi dan kondisi tubuh serta rongga mulut seseorang.
Jengkol akhirnya menjadi makanan yang cukup unik dalam budaya kuliner Indonesia.
Ia tidak punya citra yang sepenuhnya positif maupun negatif. Jengkol bisa menjadi makanan yang dihindari karena aromanya, tetapi pada saat yang sama juga menjadi hidangan yang dicari karena rasanya.
Bahkan, persoalan bau seolah menjadi bagian dari identitas jengkol itu sendiri.
Mirip seperti durian yang punya aroma kuat tetapi tetap memiliki penggemar fanatik, jengkol menunjukkan bahwa selera manusia tidak selalu berjalan lurus dengan apa yang dianggap "harum" atau "tidak berbau".
Bagi orang yang tidak suka, bau jengkol mungkin menjadi alasan untuk menutup hidung. Bagi penggemarnya, bau tersebut justru seperti tanda bahwa makanan yang ditunggu sudah tersaji.
Pada akhirnya, jengkol bukan sekadar soal bau.
Ia merupakan bagian dari kebiasaan makan dan kekayaan bahan pangan yang telah lama hadir di kawasan Asia Tenggara. Senyawa sulfur membuat aromanya khas, sementara cara masyarakat mengolahnya membuat jengkol memiliki tempat tersendiri di meja makan.
Mungkin itu sebabnya perdebatan tentang jengkol tidak pernah benar-benar selesai.
Bagi sebagian orang, jengkol adalah makanan yang dibenci karena bau.
Bagi sebagian lainnya, justru karena rasanya, bau tersebut terasa seperti harga kecil yang layak dibayar.