Dari bau yang menyengat lahir rasa yang dicari
Menariknya, aroma kuat tidak membuat jengkol kehilangan tempat di meja makan.
Jengkol merupakan tanaman yang telah lama dikonsumsi di Asia Tenggara. Biji tanaman ini dapat diolah dengan berbagai cara, mulai dari direbus dan digoreng hingga dimasukkan ke dalam hidangan lokal. Literatur ilmiah terbaru juga menyebut jengkol sebagai salah satu legum tradisional yang dikonsumsi secara luas di kawasan tersebut.
Di Indonesia, pengolahannya bahkan sangat beragam.
Ada jengkol balado dengan sambal merah yang pedas, semur jengkol dengan rasa manis dan gurih, jengkol goreng yang sederhana, hingga jengkol yang dimasak dengan bumbu khas daerah masing-masing.
Teksturnya juga menjadi salah satu alasan mengapa makanan ini punya penggemar. Jengkol yang dimasak dengan tepat dapat memiliki tekstur empuk dan rasa gurih dengan karakter yang cukup kuat.
Bagi sebagian orang, rasa tersebut tidak mudah digantikan oleh bahan makanan lain.
Jengkol dan persoalan "bau setelah makan"
Persoalan jengkol sebenarnya tidak berhenti ketika makanan sudah ditelan.
Senyawa yang berkaitan dengan aromanya dapat membuat bau khas bertahan di mulut dan napas. Rongga mulut juga memiliki bakteri yang dapat menghasilkan berbagai senyawa sulfur volatil, sehingga aroma tidak sedap dapat menjadi lebih terasa.
Karena itu, seseorang bisa saja sudah selesai makan tetapi masih membawa aroma jengkol beberapa waktu kemudian.
Hal serupa juga dapat terjadi pada urine. Senyawa dari makanan dan hasil metabolismenya dapat dikeluarkan melalui urine sehingga aromanya ikut berubah setelah mengonsumsi jengkol.