Nama lebih "abstrak" daripada wajah

Masalahnya, nama seseorang tidak memberikan banyak informasi mengenai orang tersebut.

Ketika mendengar kata "apel", misalnya, otak bisa menghubungkannya dengan bentuk, warna, rasa, atau benda yang pernah dilihat. Sementara nama seperti "Rina", "Budi", atau "Andi" pada dasarnya merupakan label yang diberikan kepada seseorang.

Nama tersebut tidak otomatis memberi gambaran seperti apa wajah, pekerjaan, suara, atau sifat orang yang memilikinya.

Psikolog David Ludden menjelaskan bahwa nama orang bersifat arbitrer. Nama tidak memiliki hubungan langsung dengan karakteristik fisik seseorang dan biasanya juga tidak mempunyai pengganti seperti sinonim pada kata-kata biasa. Kondisi ini membuat nama lebih sulit dipanggil kembali dari ingatan.

Jadi, Anda sebenarnya bisa saja benar-benar mengenali seseorang, tetapi informasi berupa namanya belum berhasil "tersambung" dengan wajah tersebut.