Wajah dan nama memang bisa disimpan sebagai satu kesatuan, tetapi otak tetap harus membuat hubungan antara keduanya.

Dalam penelitian tentang memori wajah-nama, proses tersebut disebut sebagai associative memory, yakni kemampuan menghubungkan dua informasi yang berbeda menjadi satu ingatan.

Ketika pertama kali berkenalan, misalnya, otak menerima banyak informasi sekaligus: wajah seseorang, namanya, suara, lokasi, percakapan, hingga konteks pertemuan.

Jika perhatian Anda saat itu lebih banyak tertuju pada percakapan daripada nama orang tersebut, informasi namanya bisa saja tidak tersimpan dengan kuat.

Penelitian mengenai memori asosiatif juga menunjukkan bahwa proses menghubungkan wajah dan nama melibatkan jaringan otak yang cukup luas, termasuk hippocampus, fusiform gyrus, serta wilayah yang berkaitan dengan perhatian, bahasa, dan memori.

Itulah kenapa seseorang sering mengalami "lupa namanya, kenal mukanya"