NADIKABAR.COM β€” Pada 6 September 2026, negara bagian Sachsen-Anhalt di Jerman timur menggelar pemilihan parlemen daerah. Pemenang besarnya adalah partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD), yang meraup 43,8 persen suaraβ€”perolehan tertinggi sepanjang sejarahnya.

Belum jelas siapa yang akan memerintah negara bagian itu karena AfD tidak mengantongi mayoritas mutlak.

Namun kemenangan AfD berlangsung telak. Cabang partai di Sachsen-Anhalt diklasifikasikan sebagai ekstremis sayap kanan oleh badan intelijen dalam negeri Jerman. Perkembangan ini membuat banyak warga Jerman cemas.

Sehari setelah pemilu, Kanselir Friedrich Merz dari partai konservatif CDU mengatakan dirinya "sangat terpukul" oleh hasil tersebut. "Bukan hanya sesuatu yang berubah di Sachsen-Anhalt kemarin, tetapi di seluruh Jerman."

CDU pimpinan Merz kehilangan lebih dari separuh perolehan suaranya dibandingkan pemilihan negara bagian sebelumnya di Sachsen-Anhalt. Perolehan CDU merosot dari 37,1 persen pada 2021 menjadi 17,2 persen pada 2026.

Dua pekan kemudian, dalam pemilihan negara bagian Mecklenburg-Vorpommern pada 20 September 2026, CDU bahkan gagal melewati ambang batas 5 persen untuk masuk parlemen, untuk pertama kalinya dalam sejarah. Di negara bagian timur laut itu, CDU hanya meraih 4,9 persen suara. Partai terkuat sekali lagi adalah AfD dengan 38,2 persen.

Pada hari yang sama, di negara bagian kota Berlin, partai sosialis Die Linke memenangi pemilu dan kemungkinan besar akan memerintah ibu kota Jerman. Di Berlin, CDU menjadi partai terkuat kedua, sedangkan AfD berada di posisi ketiga.

Pemilihan di sejumlah negara bagian itu menunjukkan bahwa partai-partai di ujung spektrum politik Jerman semakin kuat.

Jerman punya pengalaman dengan pemerintahan ekstrem dari kanan maupun kiri: Nazi yang membawa Jerman ke Perang Dunia II dan Partai Persatuan Sosialis Jerman (SED) yang memerintah Jerman Timur sejak 1949 hingga 1989.

Kembalinya politik ekstrem menjadi prospek yang menakutkan bagi sebagian orang.

Dalam survei bulanan bertajuk "What worries the world?", lembaga jajak pendapat IPSOS menemukan hampir seperlima warga Jerman, 18 persen, mengaku khawatir terhadap meningkatnya ekstremisme di tingkat nasional. Survei tersebut dilakukan terhadap 1.000 orang berusia 16 hingga 74 tahun pada Maret dan April 2026.

Secara umum, warga Jerman juga mencemaskan arah negaranya. Dalam survei IPSOS itu, 82 persen mengatakan Jerman sedang bergerak ke arah yang salah.

Menanyakan ketakutan atau kecemasan warga hanyalah salah satu cara untuk mengukur suasana hati sebuah bangsa.