NADIKABAR.COM — Menggigit kuku merupakan kebiasaan yang kerap muncul tanpa disadari, terutama ketika seseorang sedang merasa gugup, cemas, bosan, atau menghadapi situasi penuh tekanan. Sebagian orang melakukannya saat menunggu kabar penting, mengerjakan tugas, menonton sesuatu, hingga memikirkan masalah tertentu.

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah onychophagia atau perilaku menggigit kuku. Dalam dunia psikologi dan kesehatan, kebiasaan tersebut dapat termasuk kelompok body-focused repetitive behaviors (BFRB), yaitu perilaku berulang yang berfokus pada bagian tubuh dan berpotensi menimbulkan luka atau kerusakan.

Lantas, mengapa seseorang cenderung menggigit kuku ketika sedang cemas? Perilaku ini berkaitan dengan cara seseorang merespons emosi, mengelola ketegangan, dan mencari rasa nyaman dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Mengapa seseorang menggigit kuku saat cemas?

Ada beberapa alasan yang menjelaskan mengapa kebiasaan menggigit kuku muncul ketika seseorang mengalami tekanan emosional. Perilaku ini tidak selalu dilakukan secara sadar, bahkan sebagian orang baru menyadarinya setelah kuku atau kulit di sekitarnya terasa sakit.

1. Menjadi cara untuk meredakan ketegangan

Salah satu alasan seseorang menggigit kuku adalah untuk memperoleh rasa tenang sementara. Ketika menghadapi situasi yang membuat gugup, seseorang dapat melakukan gerakan berulang sebagai cara untuk mengurangi ketegangan.

Dalam penjelasan Merck Manual yang ditinjau oleh dokter spesialis pada November 2025, orang dengan perilaku berulang yang berfokus pada tubuh dapat merasakan ketegangan atau kecemasan sebelum menggigit kuku. Setelah melakukannya, perasaan tersebut dapat berkurang dan digantikan dengan rasa lega.

Kondisi ini membuat perilaku menggigit kuku berpotensi terus berulang karena otak mengaitkannya dengan rasa nyaman sesaat.

2. Respons terhadap stres dan rasa bosan

Menggigit kuku tidak hanya berkaitan dengan kecemasan. Kebiasaan ini juga dapat muncul ketika seseorang merasa bosan, kurang melakukan aktivitas, atau sedang berkonsentrasi pada sesuatu.

Dokter dari Cleveland Clinic, Sandra Darling, menjelaskan bahwa menggigit kuku kronis memiliki karakteristik self-soothing atau perilaku yang memberikan rasa nyaman pada diri sendiri. Seseorang dapat melakukannya ketika stres, bosan, membaca, atau menonton televisi.

Dengan kata lain, kebiasaan tersebut dapat menjadi respons terhadap kondisi emosional maupun situasi yang membutuhkan perhatian dalam waktu lama.

3. Terjadi secara otomatis tanpa disadari

Sebagian orang menggigit kuku tanpa benar-benar menyadari gerakan yang dilakukan. Misalnya, ketika sedang bekerja di depan komputer, menonton film, atau memikirkan sesuatu, tangan secara spontan mendekati mulut.

Merck Manual menjelaskan bahwa perilaku berulang yang berfokus pada tubuh dapat dilakukan secara otomatis tanpa kesadaran penuh. Namun, ada pula orang yang menyadari dorongan tersebut sebelum mulai menggigit kuku.

Kebiasaan yang berlangsung berulang dapat membentuk pola perilaku sehingga semakin sulit dihentikan, terutama jika sudah menjadi respons terhadap situasi tertentu.

4. Berkaitan dengan pengaturan emosi