Menggigit kuku juga dapat menjadi salah satu cara seseorang menghadapi emosi yang tidak nyaman. Ketika merasa gelisah, frustrasi, malu, atau tertekan, aktivitas tersebut memberikan rangsangan fisik yang dapat mengalihkan perhatian dari perasaan yang sedang dialami.
Dalam wawancara yang dimuat American Psychological Association (APA), psikolog Suzanne Mouton-Odum, PhD, menjelaskan bahwa perilaku berulang yang berfokus pada tubuh memiliki fungsi tertentu bagi orang yang melakukannya. Perilaku tersebut tidak otomatis merupakan tindakan menyakiti diri sendiri, meskipun dapat menimbulkan kerusakan fisik jika dilakukan berlebihan.
Penjelasan ini menunjukkan bahwa menggigit kuku perlu dipahami sebagai perilaku yang memiliki pemicu dan fungsi tertentu, bukan sekadar kebiasaan buruk yang harus dihentikan dengan paksaan.
Apakah kebiasaan menggigit kuku termasuk gangguan psikologis?
Menggigit kuku sesekali tidak serta-merta menandakan seseorang mengalami gangguan psikologis. Kebiasaan ini cukup umum ditemukan pada anak-anak maupun orang dewasa.
Namun, dalam kondisi tertentu, menggigit kuku yang berlangsung terus-menerus dapat dikategorikan sebagai body-focused repetitive behavior (BFRB). Istilah medis untuk kebiasaan menggigit kuku adalah onychophagia.
Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal International Journal of Environmental Research and Public Health pada 2022 memperkirakan kebiasaan menggigit kuku terjadi pada sekitar 20–30 persen populasi umum. Angka tersebut dapat berbeda berdasarkan kelompok usia dan metode penelitian yang digunakan.
Kebiasaan ini perlu mendapat perhatian apabila seseorang berulang kali gagal menghentikannya, sampai menyebabkan kerusakan kuku atau kulit, serta menimbulkan tekanan emosional maupun gangguan dalam kehidupan sehari-hari.
Merck Manual menjelaskan bahwa diagnosis gangguan perilaku berulang yang berfokus pada tubuh memerlukan penilaian tenaga profesional. Tidak cukup hanya melihat seseorang memiliki kebiasaan menggigit kuku.
Dampak terlalu sering menggigit kuku
Meskipun terlihat sebagai kebiasaan sederhana, menggigit kuku secara berlebihan dapat menimbulkan sejumlah masalah kesehatan, antara lain:
Luka kecil pada kulit atau kutikula dapat menjadi jalan masuk bakteri sehingga memicu kemerahan, pembengkakan, nyeri, bahkan muncul nanah.
Kebiasaan menggigit terlalu dalam dapat menyebabkan kuku menjadi tidak rata, mengalami perubahan bentuk, atau terluka.
Tekanan berulang ketika menggigit kuku dapat memengaruhi gigi dan jaringan di sekitar mulut.
4. Rasa tidak nyaman dan menurunnya kepercayaan diri
Kuku yang rusak atau luka di sekitar jari dapat menimbulkan rasa malu dan mengganggu aktivitas sosial.
Jika muncul pembengkakan, kemerahan, nyeri, atau tanda infeksi di sekitar kuku, sebaiknya periksakan kondisi tersebut kepada tenaga medis.
Cara mengurangi kebiasaan menggigit kuku