Inilah yang kemudian dikenal sebagai comfort food. Seseorang bisa terbiasa menghubungkan makanan tertentu dengan rasa nyaman setelah hari yang melelahkan atau ketika sedang menghadapi masalah.

3. Makan manis bisa menjadi kebiasaan

Keinginan makan saat stres tidak selalu berasal dari rasa lapar. Kebiasaan juga punya peran besar.

Misalnya, seseorang terbiasa membeli minuman manis setelah pulang kerja ketika merasa lelah. Lama-kelamaan, otak dapat menghubungkan rasa lelah dan tekanan dengan minuman tersebut.

Harvard Health menjelaskan bahwa pengalaman sebelumnya, lingkungan dan pola yang sudah terbentuk dapat membuat seseorang menggunakan makanan sebagai cara untuk menghadapi emosi yang tidak menyenangkan.

Jadi, terkadang yang dicari bukan makanan itu sendiri, melainkan perasaan nyaman yang pernah muncul setelah mengonsumsinya.

4. Stres tidak selalu membuat orang ingin makan

Hal yang cukup menarik, stres ternyata tidak selalu membuat nafsu makan meningkat.

Penelitian yang dipublikasikan pada Agustus 2026 terhadap 62 orang dewasa sehat menemukan bahwa respons terhadap stres akut dan keinginan makan tidak selalu berjalan seperti anggapan umum. Dalam penelitian tersebut, peningkatan kortisol justru berkaitan dengan penurunan keinginan makan dari waktu ke waktu.

Artinya, hubungan antara stres, hormon dan keinginan makan cukup kompleks. Ada orang yang semakin ingin ngemil ketika tertekan, tetapi ada pula yang justru kehilangan selera makan.