5. Kurang tidur juga bisa ikut memperkuat keinginan ngemil
Stres sering kali berjalan beriringan dengan tidur yang tidak cukup. Padahal, kurang tidur dapat mengganggu pengaturan nafsu makan dan membuat makanan manis, bertepung atau tinggi lemak terasa lebih menarik.
Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa kurang tidur berkaitan dengan perubahan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, termasuk ghrelin dan leptin. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap keinginan makan berlebihan.
Karena itu, jika seseorang sedang stres sekaligus kurang tidur, keinginan untuk mencari camilan bisa menjadi semakin sulit dikendalikan.
6. Bukan berarti harus menghindari makanan manis sepenuhnya
Munculnya keinginan makan manis sesekali merupakan hal yang berbeda dengan pola makan yang terus-menerus tinggi gula.
WHO dalam pedoman pola makan sehat yang diperbarui pada 2026 merekomendasikan konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10 persen kebutuhan energi harian. Untuk orang dengan kebutuhan sekitar 2.000 kalori per hari, jumlah tersebut setara dengan sekitar 50 gram atau 12 sendok teh gula. Pembatasan hingga 5 persen atau sekitar 25 gram per hari dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Karena itu, ketika keinginan makan manis muncul saat stres, bukan berarti seseorang harus langsung melarang dirinya makan makanan tersebut. Yang lebih penting adalah memperhatikan porsinya dan tidak menjadikannya satu-satunya cara untuk mengatasi tekanan.
Mengambil jeda, tidur cukup, berjalan kaki, berbicara dengan orang yang dipercaya atau melakukan kegiatan yang disukai bisa menjadi pilihan lain ketika pikiran sedang penuh.
Dengan demikian, keinginan makan manis ketika stres merupakan hasil dari berbagai faktor, mulai dari respons tubuh terhadap tekanan, kebiasaan, kondisi psikologis hingga pola tidur.