NADIKABAR.COM — Saat sedang banyak pikiran, pekerjaan menumpuk atau menghadapi masalah yang membuat kepala terasa penuh, keinginan untuk makan sesuatu yang manis bisa muncul begitu saja. Cokelat, es krim, kue, minuman manis hingga makanan cepat saji sering terasa lebih menggoda ketika suasana hati sedang tidak baik.

Kondisi tersebut bukan sekadar soal kurangnya kemampuan menahan diri. Stres dapat memengaruhi cara tubuh mengatur nafsu makan, sementara makanan yang tinggi gula dan kalori juga berkaitan dengan sistem penghargaan di otak.

Namun, hubungan antara stres dan keinginan makan manis ternyata tidak sesederhana itu. Penelitian terbaru menunjukkan respons setiap orang terhadap stres bisa berbeda.

Lantas, kenapa makanan manis terasa lebih menarik saat sedang stres? Ini penjelasannya.

1. Stres dapat memengaruhi hormon tubuh

Ketika menghadapi tekanan, tubuh mengaktifkan sistem respons stres. Salah satu hormon yang ikut meningkat adalah kortisol.

Pada kondisi stres yang berlangsung lebih lama, perubahan kadar kortisol dapat memengaruhi nafsu makan dan membuat sebagian orang lebih tertarik pada makanan yang tinggi kalori, gula atau lemak. Makanan seperti ini juga cenderung lebih mudah memberikan rasa puas dalam waktu singkat.

Meski begitu, bukan berarti setiap orang yang mengalami stres pasti akan lebih banyak makan. Respons tersebut sangat bergantung pada kondisi tubuh, kebiasaan makan dan bagaimana seseorang biasanya menghadapi tekanan.

2. Otak mencari sesuatu yang terasa menyenangkan

Ada alasan lain mengapa cokelat, kue atau minuman manis terasa begitu menggoda ketika suasana hati sedang buruk.

Makanan yang sangat lezat, terutama yang mengandung kombinasi gula, lemak dan garam, dapat mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Pengalaman menyenangkan tersebut kemudian dapat membuat seseorang ingin mengonsumsi makanan yang sama lagi ketika menghadapi situasi serupa.

Inilah yang kemudian dikenal sebagai comfort food. Seseorang bisa terbiasa menghubungkan makanan tertentu dengan rasa nyaman setelah hari yang melelahkan atau ketika sedang menghadapi masalah.

3. Makan manis bisa menjadi kebiasaan

Keinginan makan saat stres tidak selalu berasal dari rasa lapar. Kebiasaan juga punya peran besar.

Misalnya, seseorang terbiasa membeli minuman manis setelah pulang kerja ketika merasa lelah. Lama-kelamaan, otak dapat menghubungkan rasa lelah dan tekanan dengan minuman tersebut.

Harvard Health menjelaskan bahwa pengalaman sebelumnya, lingkungan dan pola yang sudah terbentuk dapat membuat seseorang menggunakan makanan sebagai cara untuk menghadapi emosi yang tidak menyenangkan.

Jadi, terkadang yang dicari bukan makanan itu sendiri, melainkan perasaan nyaman yang pernah muncul setelah mengonsumsinya.

4. Stres tidak selalu membuat orang ingin makan

Hal yang cukup menarik, stres ternyata tidak selalu membuat nafsu makan meningkat.

Penelitian yang dipublikasikan pada Agustus 2026 terhadap 62 orang dewasa sehat menemukan bahwa respons terhadap stres akut dan keinginan makan tidak selalu berjalan seperti anggapan umum. Dalam penelitian tersebut, peningkatan kortisol justru berkaitan dengan penurunan keinginan makan dari waktu ke waktu.

Artinya, hubungan antara stres, hormon dan keinginan makan cukup kompleks. Ada orang yang semakin ingin ngemil ketika tertekan, tetapi ada pula yang justru kehilangan selera makan.

5. Kurang tidur juga bisa ikut memperkuat keinginan ngemil

Stres sering kali berjalan beriringan dengan tidur yang tidak cukup. Padahal, kurang tidur dapat mengganggu pengaturan nafsu makan dan membuat makanan manis, bertepung atau tinggi lemak terasa lebih menarik.

Harvard T.H. Chan School of Public Health menjelaskan bahwa kurang tidur berkaitan dengan perubahan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, termasuk ghrelin dan leptin. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap keinginan makan berlebihan.

Karena itu, jika seseorang sedang stres sekaligus kurang tidur, keinginan untuk mencari camilan bisa menjadi semakin sulit dikendalikan.

6. Bukan berarti harus menghindari makanan manis sepenuhnya

Munculnya keinginan makan manis sesekali merupakan hal yang berbeda dengan pola makan yang terus-menerus tinggi gula.

WHO dalam pedoman pola makan sehat yang diperbarui pada 2026 merekomendasikan konsumsi gula bebas dibatasi kurang dari 10 persen kebutuhan energi harian. Untuk orang dengan kebutuhan sekitar 2.000 kalori per hari, jumlah tersebut setara dengan sekitar 50 gram atau 12 sendok teh gula. Pembatasan hingga 5 persen atau sekitar 25 gram per hari dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Karena itu, ketika keinginan makan manis muncul saat stres, bukan berarti seseorang harus langsung melarang dirinya makan makanan tersebut. Yang lebih penting adalah memperhatikan porsinya dan tidak menjadikannya satu-satunya cara untuk mengatasi tekanan.

Mengambil jeda, tidur cukup, berjalan kaki, berbicara dengan orang yang dipercaya atau melakukan kegiatan yang disukai bisa menjadi pilihan lain ketika pikiran sedang penuh.

Dengan demikian, keinginan makan manis ketika stres merupakan hasil dari berbagai faktor, mulai dari respons tubuh terhadap tekanan, kebiasaan, kondisi psikologis hingga pola tidur.