NADIKABAR.COM — Tanda tangan sering kali menjadi salah satu bentuk identitas yang melekat pada seseorang. Mulai dari menandatangani dokumen resmi, surat, hingga berbagai urusan administrasi, tanda tangan digunakan untuk menunjukkan persetujuan atau mengesahkan sesuatu.
Namun, pernahkah Anda membandingkan tanda tangan saat masih sekolah dengan tanda tangan yang digunakan sekarang? Bisa jadi bentuknya sudah cukup berbeda. Ada garis yang semakin panjang, huruf yang berubah, ukuran yang mengecil, atau bahkan bentuk tanda tangan yang menjadi jauh lebih sederhana.
Perubahan tersebut sebenarnya merupakan hal yang cukup wajar. Tanda tangan bukanlah gambar yang dibuat secara statis, melainkan hasil dari gerakan motorik yang dilakukan berulang-ulang.
Berbeda dengan sekadar membuat gambar, tanda tangan merupakan gerakan yang dipelajari dan kemudian menjadi semakin otomatis setelah sering dilakukan.
Ketika seseorang sudah terbiasa dengan bentuk tanda tangannya, otak tidak perlu lagi memikirkan setiap garis atau huruf secara terpisah. Gerakan tersebut menjadi semacam pola motorik yang dapat dilakukan dengan relatif cepat.
Meski begitu, pola motorik tersebut tetap memiliki variasi. Penelitian mengenai tanda tangan menunjukkan adanya perbedaan dalam kecepatan gerakan, tekanan pena, durasi, ukuran goresan dan karakteristik gerakan lainnya, bahkan ketika seseorang membuat tanda tangan yang sama berulang kali.
Itulah sebabnya dua tanda tangan dari orang yang sama tidak selalu terlihat 100 persen identik.
Seiring bertambahnya usia, seseorang bisa mengalami perubahan kebiasaan dalam menggunakan tangan. Cara memegang pulpen, posisi kertas, kecepatan menulis hingga seberapa kuat tekanan tangan dapat berubah.
Bahkan kondisi saat menulis juga dapat memberikan pengaruh. Penelitian terbaru mengenai tanda tangan digital menemukan bahwa posisi menulis dapat memengaruhi sejumlah karakteristik tanda tangan, termasuk gaya dan tekanan saat menggunakan alat tulis.