Sejak kecil, perempuan cenderung lebih banyak diberi ruang untuk menunjukkan kesedihan. Sedangkan laki-laki lebih sering mendapat pesan bahwa mereka harus kuat dan tidak mudah menangis. Akibatnya, laki-laki lebih memilih menahan kesedihannya atau mengekspresikannya dengan cara yang lain.

Jellesma dan Vingerhoets menjelaskan bahwa norma sosial dapat membuat anak laki-laki belajar untuk tetap mengendalikan air mata karena menangis dianggap kurang sesuai dengan gambaran laki-laki yang harus kuat. Dengan demikian, seseorang mungkin bukan tidak merasakan emosi, tetapi belajar untuk tidak menunjukkannya melalui tangisan.

Lingkungan sosial juga ikut menentukan apakah seseorang merasa nyaman untuk menangis. Hal ini terjadi karena sejumlah orang lebih mungkin menangis ketika berada dengan orang terdekat. Hal ini menunjukkan bahwa menangis tidak hanya merupakan respons pribadi terhadap emosi, tetapi juga berkaitan dengan hubungan sosial.