NADIKABAR.COM — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyebut Program Makan Bergizi Gratis (MBG) prasmanan bisa lebih efektif mengurangi limbah makanan karena tingkat konsumsi siswa menjadi lebih tinggi.

"Saya lihat memang dari beberapa yang sekarang sudah jalan, ini tingkat habisnya, tingkat kebersihannya tinggi, ya, jadi, orang juga senang," katanya di Jakarta, Jumat.

Sudaryono menegaskan, metode prasmanan tidak menambah anggaran per porsi yang telah ditetapkan, yakni sebesar Rp15 ribu.

"Kita melayaninya kan Rp15 ribu dikalikan jumlah anak sekolah, ya, tetapi bahwa waste (limbah)-nya itu kan yang menjadi perhatian, misal antara satu siswa dengan siswa yang lain itu kan ada tubuhnya kecil, misalnya sama-sama kelas 5 SD kan ada yang kecil, yang besar, gitu, tentu makannya kan berbeda," ujar dia.

"Nah, tadinya kan kecil-besar kan porsinya sama, ini sekarang kan porsi besar-kecil sama (dalam satu prasmanan), tetapi kalau ada yang (porsinya) besar dan dia mau nambah, ada sisa, dia boleh nambah," katanya.

Kepala BGN menambahkan, saat ini pihaknya telah membuat percontohan atau piloting MBG prasmanan di beberapa daerah, di antaranya Pulau Jawa, Aceh, Palembang, bahkan juga ada yang di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T), salah satunya Merauke.

"Jadi, kami ingin piloting ini betul-betul prima, kami bisa lihat dan mitigasi semua persoalannya, bisa kita atasi, baru kemudian kita secara bertahap, ya, dari katakanlah ini 66, mungkin di tahap berikutnya setelah dua minggu kita evaluasi, kita bereskan, misalnya di 500, habis itu 1.000, 1.500, secara bertahap akan bertambah," paparnya.

BGN menargetkan sebanyak 5.000 SPPG melaksanakan Program MBG secara prasmanan pada akhir 2026. Hingga hari ini, Jumat (16/10), BGN melaporkan sudah ada percontohan atau piloting di 66 SPPG yang tersebar di seluruh Indonesia untuk melaksanakan MBG prasmanan.