Kondisi tersebut membuat makanan dimasak lebih awal dan kemudian disimpan sebelum kembali diproses atau disajikan.

"Beberapa kasus sebabnya adalah karena tidak paham SOP. SOP penyimpanan makanan disajikan misalnya kapasitas dapur, intinya adalah kenapa ada keracunan? Karena ada dapur kecil dikasih yang banyak, sehingga dia adanya memasak pagi-pagi, ditaruh dulu, dia masak lagi," ujar Sudaryono.

Selain persoalan waktu konsumsi dan penyimpanan, Sudaryono menyebut masih ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan expired date atau batas waktu makanan untuk dikonsumsi.

Ia mencontohkan kasus keracunan yang dialami sekitar 500 santri di Sidoarjo, Jawa Timur.

Menurut Sudaryono, berdasarkan investigasi sementara BGN, makanan tersebut dimasak sekitar pukul 05.00. Makanan kemudian diberi label batas konsumsi hingga pukul 10.00.