“Di negara demokrasi seperti Indonesia ini, semua lembaga dan swasta di negara demokrasi, kunci utamanya untuk bisa survive itu adalah mendapatkan public legitimacy, dukungan publik, dukungan rakyat, dan mendapatkan public consent, restu dari rakyat untuk kita bisa bekerja,” tuturnya.

Dalam refleksinya, Tito menggunakan analogi group tent atau teori tenda kelompok untuk menggambarkan pentingnya kerja bersama dalam organisasi. Menurutnya, tenda akan berdiri kokoh apabila seluruh pihak di dalamnya turut menopang.

“Dirgahayu Badan Nasional Pengelola Perbatasan yang ke-16. Teruslah bekerja keras untuk menjaga kedaulatan dan membangun beranda depan negara kita,” ucap Tito.

Peringatan HUT ke-16 BNPP RI turut diisi dengan penyerahan Satyalancana Karya Satya bagi ASN dengan masa pengabdian 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun, serta santunan dan paket sembako bagi anak yatim piatu.

Rangkaian tersebut menjadi bagian dari refleksi perjalanan BNPP RI sekaligus penguatan komitmen untuk terus hadir bagi masyarakat di kawasan perbatasan.

Sebagai informasi, BNPP RI secara resmi terbentuk pada 17 September 2010 berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara. Pembentukan BNPP RI menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengelola batas wilayah negara dan kawasan perbatasan secara terpadu.