"Kerja sama internasional harus bekerja sama untuk memperkuat sains dan teknologi demi kemanusiaan dan keadilan, keberlanjutan dan kesejahteraan," ucap Arif.

"Kita tentu saja sedang mengalami bump. Ketegangan geopolitik, persaingan strategis, kekhawatiran akan keamanan riset, dan persaingan atas teknologi kritis membuat kerja sama ilmiah menjadi lebih kompleks," tambahnya.

"Namun, mungkin ada juga fork karena lingkungan tempat diplomasi sains bekerja telah berubah secara mendasar. Sains dan teknologi saat ini semakin terhubung dengan daya saing ekonomi, keamanan nasional, kedaulatan teknologi, dan geopolitik," imbuhnya.

Arif kemudian menyampaikan tiga pemikiran dari perspektif Indonesia. Pertama, diplomasi sains harus tetap menjadi instrumen untuk membangun kepercayaan dan kerja sama internasional meski hubungan geopolitik semakin kompleks.

Kedua, diplomasi sains perlu berkembang menjadi lebih tangguh, timbal balik atau resiprokal, serta inklusif. Menurutnya, negara-negara berkembang perlu berorientasi lebih maju agar tidak hanya sebagai sumber data, lokasi penelitian, atau penerima teknologi.

"Negara-negara berkembang perlu menjadi pencipta bersama pengetahuan dan teknologi. Hal ini akan membentuk diplomasi sains lebih berkesinambungan," katanya.

Ketiga, diplomasi sains perlu dibangun melalui jejaring yang saling terhubung, mulai dari kerja sama bilateral dan regional, konsorsium riset, infrastruktur bersama, hingga mobilitas peneliti.