"Dalam konteks tersebut, Indonesia mendorong diplomasi sains yang mampu menjaga keterbukaan tanpa mengabaikan kepentingan nasional dan ketahanan strategis," ujar Arif.

Menutup paparannya, Arif kembali menggarisbawahi visi Prabowo mengenai pentingnya penguasaan sains dan teknologi bagi masa depan Indonesia. Menurutnya, dalam dunia yang semakin saling terhubung, kemampuan ilmiah nasional dan kerja sama internasional bukan dua hal yang harus dipertentangkan, tapi perlu diperkuat.

"Negara dengan kemampuan ilmiah yang lebih kuat dapat menjadi mitra internasional yang lebih kuat. Dan kemitraan internasional yang lebih kuat, pada gilirannya, dapat memperkuat kemampuan nasional," katanya.

Arif menilai masa depan diplomasi sains tidak harus memilih antara keterbukaan penuh dan fragmentasi. Sebaliknya, diperlukan jalur kerja sama yang memungkinkan negara dengan kepentingan dan tingkat pembangunan berbeda untuk menjadi pencipta dan pengembang bersama.

Bagi Indonesia, arah tersebut diwujudkan melalui diplomasi sains yang membangun kepercayaan, memperkuat kerja sama internasional, serta mendukung pembangunan berkelanjutan.

"Diplomasi sains yang lebih adaptif, inklusif, resiprokal, dan tangguh," ujar Arif.

"Dan yang terpenting, diplomasi sains yang memungkinkan kita untuk mengejar kedaulatan tanpa isolasi, serta keterbukaan tanpa kerentanan," pungkasnya.