NADIKABAR.COM — Tujuh pegawai Kepolisian Montreal, Kanada, diberhentikan setelah penyelidikan disipliner terkait dugaan perilaku rasis dan diskriminatif, menurut laporan CBC News pada Senin.

Kepala Kepolisian Montreal Fady Dagher mengumumkan pemecatan tersebut dalam konferensi pers. Dua pegawai berasal dari Kantor Polisi 21 dan lima lainnya dari Kantor Polisi 39.

Dagher mengatakan pemecatan dilakukan setelah penyelidikan disipliner internal. Sementara itu, penyelidikan pidana terpisah masih berlangsung dan keputusan terkait dakwaan berada di tangan jaksa penuntut.

"Kami tidak akan menerima tindakan yang mencoreng institusi," kata Dagher. Ia mengatakan pengumpulan bukti membutuhkan waktu lama, tetapi "kita hidup berdasarkan supremasi hukum."

Kantor Polisi 39 di distrik Montreal-Nord menjadi pusat skandal rasisme sejak Juni. Saat itu, Dagher mengungkapkan 16 polisi diselidiki atas dugaan tindakan bernuansa kebencian terhadap warga kulit hitam dan Arab saat pemeriksaan polisi.

Kantor Polisi 21 yang mencakup sebagian wilayah pusat Montreal juga mendapat sorotan bulan lalu. Menteri Keamanan Dalam Negeri Quebec memerintahkan dua penyelidikan terhadap seorang polisi yang dituduh mengencingi tunawisma saat mengenakan seragam.

Seorang polisi lain dari kantor tersebut juga diskors karena diduga melakukan tindakan penghinaan terhadap warga dari kelompok rasial, menurut laporan tersebut.

Dagher mengakui kepercayaan publik terhadap kepolisian telah "sangat melemah", tetapi dia yakin kepercayaan tersebut dapat dibangun kembali.

Menanggapi pertanyaan mengapa pemecatan tidak dilakukan lebih cepat, Dagher mengatakan dirinya ingin menyelidiki kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat. Menurut dia, proses tersebut membutuhkan waktu.

Ia mengakui para korban telah "menunggu terlalu lama". Kepolisian Montreal, kata dia, telah merombak prosedur perekrutan, pelatihan, promosi, dan penyelidikan internal.

Kepolisian juga memperkenalkan sejumlah perangkat yang memungkinkan polisi melaporkan rekan mereka atas dugaan pelanggaran.

Dagher berjanji akan bertindak "tanpa ampun" terhadap sekitar satu persen polisi yang sengaja mencoreng seragam kepolisian.

Secara terpisah, kantor kejaksaan Quebec dilaporkan menyelidiki seorang polisi yang dituduh menghapus bukti dari telepon korban kekerasan dalam rumah tangga pada 2025, menurut sumber Radio-Canada.

Dagher mengatakan pengumuman lebih lanjut diperkirakan muncul dalam beberapa pekan mendatang. Informasi tambahan akan dirilis pada November.

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan